Wisata Malam di Djogja

Anda ingin menikmati keindahan malam di Jogja? Ada banyak obyek dan tempat alternative berwisata malam di kota ini. Berikut beberapa wisata malam yang patut Anda nikmati:

PASAR SORE MALIOBORO

Jika Anda mencari oleh-oleh sekaligus ingin jalan-jalan maka Pasar Sore Malioboro bisa menjadi salah satu referensi Anda. Pasar ini berada di kawasan Malioboro yaitu sebelah utara Benteng Vredeburg Lebih dari 20 pedagang menempati pasar sore sejak tahun 2000. Sebelumnya, para pedagang tersebut menggelar dagangan mereka di depan dan selatan Benteng Vredenburg. Kondisi jalan Malioboro dan sekitarnya yang padat ditambah dengan keberadaan para pedagang di trotoar membuat jalan semakin semrawut sehingga Pemkot Jogjakarta akhirnya meminta mereka pindah ke lokasi parkir di sisi selatan Pasar Beringharjo itu.

Para pedagang di Pasar Sore Malioboro mulai memajang dagangan sejak pukul 17.00 WIB hingga larut malam tergantung pada keramaian pembeli. Mayoritas pedagang di Pasar Sore Malioboro berdagang berbagai macam jenis dan bentuk pakaian untuk semua umur, tas, sandal, dan sepatu. Anda juga bisa menjumpai oleh-oleh khas Jogjakarta seperti bakpia, geplak, dan sebagainya. Setelah puas mengitari Pasar Sore ini Anda bisa langsung berjalan ke arah selatan jalan Malioboro atau depan Benteng Vredeburg. Di sana bisa duduk-duduk santai menikmati malam di jantung kota Jogja sambil menikmati jajanan yang ditawarkan para pedagang dan memandang gedung-gedung tua di sekitarnya seperti Gedung Agung yang juga merupakan Istana Kepresidenan, Gedung BI dan tentu saja Benteng Vredeburg. Suara pengamen juga akan terdengar menghiasi keramaian suasanan di sana.

Bersantai sambil mencari oleh-oleh untuk orang di rumah, Pasar Sore sekitarnya adalah pilihan yang tepat!

LESEHAN MALIOBORO

Malioboro merupakan salah satu icon dari kota Jogja. Sebuah jalan dengan deretan toko dan para pedagang kaki lima yang sangat terkenal di seluruh Indonesia. Mulai dari jam 09.00 – 21.00 WIB, para wisatawan bisa memilih barang yang.hendak dibeli di sepanjang Jalan Malioboro mulai dari pakaian, makanan, cindera mata, tas, sepatu, dan sebagainya. Jika malam telah tiba Anda akan menemui tema lain di Malioboro ini. Ketika semua toko, mall, dan pedagang kaki lima tutup mulailah berganti pedagang lesehan yang menggelar dagangannya. Inilah ciri khas Jalan Malioboro pada malam hari, yaitu warung-warung lesehan yang dapat Anda temui di sepanjang Jalan Malioboro. Kebanyakan warung menggunakan alas tikar dan meja pendek. Lesehan memang artinya duduk santai di lantai. Menu dari warung-warung ini mulai dari bebek goreng, ayam goreng, ayam panggang, burung dara goreng, sate, pecel lele, seafood dan tak lupa gudeg Jogja.Cobalah Anda datangi lesehan yang memajang daftar harganya supaya Anda bisa memperkirakan uang yang akan Anda keluarkan untuk makanan tersebut. Sebab memang ada warung lesehan yang tidak memasang harga dan ketika membayar membuat pembeli terkejut karena makanan yang mahal.. Sekarang hampir semua pedagang lesehan telah memasang daftar harga makanan yang mereka jual. Harga memang biasanya lebih mahal dibandingkan dengan lesehan tempat lain di Jogja. Namun di Malioboro ini selain makan malam, Anda sekaligus menikmati kawasan wisata yang memiliki daya pikat dan ciri khas-nya sendiri. Diiringi seniman-seniman jalanan Jogja, santap malam Anda akan terasa lebih indah. Ada pengamen yang hanya bermodal peralatan seadanya, ada yang tampil profesional dengan peralatan lengkap dan kadang kala lelaki tua dengan siter-nya pun mengamen di warung-warung lesehan Malioboro. Selain itu para seniman lukis wajah juga acapkali datang menawarkan jasa untuk pengunjung warung.. Hanya dalam hitungan menit, hasil lukisan karikatur sudah bisa dinikmati pemesannya. Silahkan menikmati suasana lesehan Malioboro dengan segala “pernak-perniknya!”

TUGU JOGJA

Tugu Yogyakarta adalah sebuah menara yang sering dipakai sebagai lambang dari kota Yogyakarta. Tugu ini dibangun oleh Hamengkubuwana I, pendiri kraton Yogyakarta, setahun setelah didirikannya Kraton Jogja. Tugu Jogja merupakan landmark Kota Yogyakarta yang paling terkenal. Tugu ini mempunyai nilai simbolis dan merupakan garis yang bersifat magis menghubungkan laut selatan, Kraton Jogja dan Gunung Merapi. Pada saat melakukan meditasi, konon Sultan Yogyakarta pada waktu itu menggunakan tugu ini sebagai patokan arah menghadap puncak gunung Merapi.

Saat awal dibangun tugu ini berbentuk tiang silinder (gilig) yang mengerucut ke atas, bagian dasarnya berupa pagar yang melingkar dan bagian puncaknya berbentuk bulat (golong) sehingga disebut sebagai Tugu Golong Gilig dengan ketinggian mencapai 25 meter. Kondisi tugu berubah setelah terjadinya gempa besar 18 Juni 1867 yang membuat bangunan tugu ini runtuh. Tugu itu kemudian diperbaiki oleh Opzichter van Waterstaat/Kepala Dinas Pekerjaan Umum, JWS van Brussel di bawah pengawasan Pepatih Dalem Kanjeng Raden Adipati Danurejo V. Lalu tugu baru itu diresmikan HB VII pada 3 Oktober 1889. Oleh pemerintah Belanda, tugu itu disebut De Witte Paal (Tugu Putih). Bentuknya menjadi berbeda, yakni tiang tugu dibuat persegi dengan tiap sisi diberi semacam prasasti yang menunjukan siapa saja yang terlibat dalam pengerjaan renovasi tersebut. Tugu hasil renovasi dari Belanda ini puncaknya berbentuk kerucut yang runcing dengan ketinggian tugu 15 meter. Sejak saat itu, tugu ini disebut juga sebagai De Witt Paal atau Tugu Pal Putih karena catnya berwarna putih.

Tugu Jogja ini sekarang merupakan salah satu objek pariwisata dan sering dijadikan obyek foto oleh para wisatawan. Tugu akan sangat indah dinikmati sore hingga malam hari saat bermandikaan cahaya dari lampu sorot yang menghiasi bangunan tersebut. Lebih menyenangkan sambil menikmati makanan dan jajanan di sekitar Tugu, seperti gudeg, angkringan, pecel lele, dll. Banyak wisatawan terutama anak-anak muda berfoto untuk mengabadikan wisata mereka di Jogja. Setelah itu mereka duduk-duduk bergerombol hingga lewat dini hari di sekitarnya. Jika Anda berjalan ke selatan, di sebelah Timur jalan tersedia bangku yang bisa dipakai untuk duduk-duduk santai sambil memandang Tugu yang menjadi salah satu icon anak-anak muda yang suka nongkrong hingga larut malam. Namun jika siang hari, Tugu sering kali dipakai para mahasiswa untuk menggelar unjuk rasa. Begitu identiknya Tugu Jogja dengan kota ini, banyak mahasiswa meluapkan kebahagiannya atas kelulusannya dengan meemeluk dan mencium Tugu tersebut.

Belum bisa dikatakan ke Jogja kalau belum menyentuh Tugu Jogja! Anda sudah menyentuh Tugu ini?

ANGKRINGAN JOGJA

Angkringan adalah semacam warung makan yang berupa gerobag kayu yang ditutupi dengan terpal plastik dengan warna khas, biru atau oranye menyolok. Dengan kapasitas sekitar 8 orang pembeli, angkringan beroperasi mulai sore hari sampai dini hari. Namun kini ada juga yang mulai buka siang hari. Pada malam hari, angkringan mengandalkan penerangan tradisional lampu senthir dengan bahan baker minyak tanah. Selain itu terangnya lampu jalan juga membuat suasana warung angkring makin terang.

Menu makanan wajib angkringan adalah nasi (sego) kucing. Disebut nasi kucing karena porsinya seperti nasi yang seperti porsi nasi dan lauk pauk yang biasa diberikan untuk kucing, yaitu tempe atau ikan teri Nasi yang dijual di angkringan ini di bungkus dengan daun pisang dengan lauk biasanya sambal tempe, teri, atau telur dadar yang dipotong kecil-kecil. Menu lain yang tersaji dalam keranjang di atas angkringan adalah sate usus, jeroan, dan telur puyuh. Selain itu ada ceker ayam, gorengan, dan bebrapa makanan ringan. Sedangkan pilihan minuman yang biasa ada di angkringan adalah wedang jahe, teh, jeruk, kopi, dan beberapa minuman praktis lainnya. Semua dijual dengan harga yang sangat terjangkau.

Sejarah angkringan di Jogja dimulai sekitar tahun 1950-an yang dipelopori oleh seorang pendatang dari Cawas, Klaten bernama Mbah Pairo. Cawas yang secara adminstratif termasuk wilayah Klaten Jawa Tengah merupakan daerah tandus terutama di musim kemarau. Tidak adanya lahan subur yang bisa diandalkan untuk menyambung hidup, membuat Mbah Pairo mengadu nasib ke kota Jogja. Mbah Pairo inilah pionir angkringan di Jogja. Berbeda dengan angkringan saat ini yang memakai gerobak, diawal kemunculannya angkringan menggunakan pikulan sebagai alat sekaligus center of interest. Bertempat di sekitar Stasiun Tugu Mbah Pairo menggelar dagangannya. Pada masa Mbah Pairo berjualan, angkringan dikenal dengan sebutan ting-ting hik (baca: hek). Hal ini disebabkan karena penjualnya berteriak “Hiiik…iyeek” ketika menjajakan dagangan mereka. Istilah hik sering diartikan sebagai Hidangan Istimewa Kampung. Sebutan hik sendiri masih ditemui di Solo hingga saat ini, tetapi untuk di Jogja istilah angkringan lebih populer.

Demikian sejarah angkringan di Jogjakarta bermula. Usaha angkringan Mbah Pairo ini kemudian diwarisi oleh Lik Man, putra Mbah Pairo sekitar tahun 1969. Lik Man yang kini menempati sebelah utara Stasiun Tugu sempat beberapa kali berpindah lokasi. Seiring bergulirnya waktu, lambat laun bisnis ini kemudian menjamur hingga pada saat ini sangat mudah menemukan angkringan di setiap sudut Kota Jogja. Angkringan Lik Man menjadi yang paling dikenal di dalam dan luar Jogja. Warung angkringan Lik Man memiliki minuman spesial yaitu kopi joss. Kopi ini berbeda dengan kopi lainnya, yaitu pada saat akan dihidangkan gelas kopi dicelupkan arang panas yang menimbulkan bunyi jossss. Banyak sekali peminat dari angkringan Lik Man ini. Hal tersebut bisa Anda buktikan jika. Anda banyak menemukan puluhan orang sedang lesehan karena area angkringan tersebut sangat sempit. Warung angkringan Lik Man kini telah menjadi salah satu ikon wisata kuliner di Jogja. Angkringan Tugu Lik Man ini buka dari sore hingga menjelang subuh.

Selain Angkringan. Tugu tersebut sekarang di Jogja telah ada banyak warung angkring dari kota hingga pelosok kampung dan menjadi tempat alternative untuk melepas penat, bertemu dengan teman atau sekedar bersantai dan kumpul-kumpul sambil minum dan makan. Pembicaraan yang ada di angkringan bisa mulai dari pelajaran di sekolah, masalah social, budaya, olah raga, politik dan semua sisi kehidupan.

Jika Anda ke Jogja, warung angkringan harus Anda masukkan dalam catatan wisata kuliner Anda. Selain merasakan menu dan harganya yang merakyat juga nuansa keramahan dan keakraban yang akan Anda jumpai!

BUKIT BINTANG

Hargodumilah atau sering disebut Bukit Bintang terletak di jalan Jogja-Wonosari km 16 Pathuk Gunungkidul. Pemberian nama bukit bintang ini karena dari sini jika di malam hari memandang kota Jogja akan terlihat lampu rumah-rumah bersinar dari kejauhan seperti bintang bertaburan berpadu dengan langit malam yang memang penuh bintang. Hal itu membuat pemandangan kota Jogja tampak menyatu antara langit sampai batas cakrawala. Terlihat begitu indah!

Pada siang hari pun Anda akan melihat pemandangan yang menakjubkan yaitu Gunung Merapi,Gunung Merbabu, Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing yang berdiri tegak memamerkan keindahan di kejauhan sana. Saat mengunjungi Hargodumilah di kala senja, Anda akan menyaksikan sunset di atas kota Jogja. Keindahan akan berlanjut saat malam dengan kerlap-kerlip kota Yogyakarta yang akan Anda saksikan dari bukit ini. Banyak wisatawan yang kebanyakan kaum muda datang menikmati suasana di sini. Ruas jalan di sekitar bukit telah diperluas sebagai arena parkir para pengunjung. Warung-warung kecil sampai restoran dengan nuansa romantis berjejer di jalan tersebut. Sangat cocok bagi Anda yang ingin mencari ketenangan dengan rekan-rekan, pasangan, ataupun keluarga dengan duduk-duduk, menikmati minuman dan jajanan sambil memandangi keindahan kota Jogja dari kejauhan.

Cobalah menikmati keindahan Jogja dari sisi yang berbeda di bukit ini! Tidak hanya kaya akan budaya, Jogja juga memiliki keindahan alam yang sangat menakjubkan.

ALUN-ALUN SELATAN

 

Alun-alun Kidul (Selatan) atau sering disebut Alkid adalah alun-alun di bagian Selatan Keraton Yogyakarta. Alkid sering pula disebut sebagai Pengkeran, berasal dari kata pengker (bahasa Jawa) yang berarti belakang. Hal tersebut sesuai dengan letak Alkid yang memang terletak di belakang keraton. Alun-alun ini dikelilingi oleh tembok persegi yang memiliki lima gapura, satu buah di sisi selatan serta di sisi timur dan barat masing-masing dua buah. Di antara gapura utara dan selatan di sisi barat terdapat ngGajahan sebuah kandang guna memelihara gajah milik Sultan. Namun sekarang gajah-gajah milik Sultan telah dititipkan di kebun binatang Gembiroloka. Di sekeliling alun-alun ditanami pohon mangga (Mangifera indica; famili Anacardiaceae), pakel (Mangifera sp; famili Anacardiaceae), dan kueni (Mangifera odoranta; famili Anacardiaceae). Pohon beringin hanya terdapat dua pasang. Sepasang di tengah alun-alun yang dinamakan Supit Urang (harfiah=capit udang) dan sepasang lagi di kanan-kiri gapura sisi selatan yang dinamakan Wok(dari kata bewok, harfiaf=jenggot). Dari gapura sisi selatan terdapat jalan Gading yang menghubungkan dengan Plengkung Nirbaya.

Pada awalnya alkid ini dibuat untuk mengubah suasana bagian belakang keraton menjadi seperti bagian depan karena pada dasarnya antara Gunung Merapi, Keraton Yogyakarta dan laut selatan pulau jawa terbentuk garis imajiner yang menghubungkan kesatuan tersebut. Saat itu alkid digunakan sebagai tempat para prajurit berlatih ketangkasan. Latihan-latihan yang digelar antara lain: setonan (ketangkasan berkuda), manahan (ketangkasan memanah sambil duduk bersila), rampog macan (lomba adu macan). Di alkid inilah dulu para petinggi prajurit beserta anak buahnya melakukan kegiatan sowan (menghadap) raja. Selain itu para prajurit juga melatih konsentrasi dengan berjalan di antara dua ringin kurung di Alkid dengan mata terpejam yang disebut masangin.

Saat ini latihan rutin ketangkasan seperti disebut di atas sudah tidak ada lagi. Acara sowan para prajurit di alkid pun telah dihilangkan sejak jaman Sultan Hamengkubuwana VIII. Namun pada saat-saat tertentu, pihak Kraton Jogjakarta menggelar wayang kulit semalam seuntuk di Sasono Hinggil Dwi Abad (sebelah utara alun-alun kidul). Selain itu, sehari menjelang perayaan Grebeg semua prajurit berkumpul dan berlatih di Alkid. Selain itu ada yang khas di alun-alun selatan sejak sekitar tahun 1990-an, ialah tentang mulai banyaknya pengunjung alkid dan bermain masangin. Mitos yang dipercaya turun temurun bahwa orang yang berhasil melakukan masangin, yaitu berjalan melewati di antara dua beringin tersebut dengan mata tertutup adalah orang berhati bersih dan permohonannya akan dikabulkan serta akan mendapat berkah.

Kegiatan itu setiap hari ramai dilakukan oleh wisatawan. Kalau Sabtu malam, akan penuh orang menjalani permainan masangin ini selain tentu saja bersantai menikmati keramaian sambil mencicipi makanan dan minuman di sana. Pukul lima sore tenda-tenda pedagang mulai didirikan dan bahan makanan atau minuman yang akan dijajakan pun disiapkan. Makanan dan minuman yang dijajakan antara lain ronde, sebuah minuman berkomposisi wedang jahe, kacang, kolang kaling dan bulatan dari tepung beras berisi gula jawa cair yang hangat. Selain itu ada wedang bajigur yang terbuat dari santan kelapa, jahe, bubuk kopi dan sirup gula jawa. Biasanya, wedang ini diisi irisan roti tawar, kelapa yang diiris kotak dan kolang-kaling. Wedang bajigur dan ronde ini akan menghangatkan tubuh Andadari dinginnya malam di alkid.

Dengan konsep lesehan, umumnya warung makan di kawasan alun-alun ini menjajakan makanan dengan harga tak mahal. Aneka macam makanan yang dibakar pun bisa Anda cicipi di sini seperti jagung bakar, pisang bakar dan roti baker, nasi kucing yang merupakan makanan khas Jogja, ayam baker, ikan bakar hingga tempe tersedia. Suasana makan Anda akan diselingi oleh nyanyian para pengamen yang akan mendatangi tempat makan Anda. Selain itu ada lagi kegiatan yang bisa Anda nikmati di Alkid yaitu bersepeda mengelilingi alkid. Ada beberapa macam sepeda yang dapat Anda sewa di sana yang dapat dikayuh bersama-sama.

Cobalah bermain masangin. Anda akan merasakan penasaran jika Anda justru berjalan belok atau menjauhi jalan di antara dua beringin tersebut!

SENDRATARI RAMAYANA

Sendratari Ramayana atau dikenal juga dengan Ramayana Balet merupakan sebuah pagelaran yang menggabungkan antara seni drama dan seni tari dengan iringan musik traditional Jawa. Ramayana Ballet mengangkat cerita Ramayana yang merupakan sebuah legenda yang terpahat indah di dinding Candi Siwa, salah satu candi yang ada di Candi Prambanan. Jika Anda berada di Candi Prambanan dan berjalan pradaksina (searah jarum jam) Anda akan menemukan alur cerita Ramayana yang ada pada relief tersebut. Kisah Ramayana adalah epos legendaris karya Walmiki yang ditulis dalam bahasa Sanskerta. Pagelaran ini dapat Anda saksikan di kawasan kompleks Candi Prambanan dan di Purawisata Jogja. Pihak pengelola, PT Taman Wisata Candi Borobudur-Prambanan dan Ratu Boko, membagi pagelaran dalam empat episode yaitu, penculikan Sinta, misi Anoman ke Alengka, kematian Kumbakarna atau Rahwana, dan pertemuan kembali Rama-Sinta. Terdapat dua lokasi pertunjukan, yakni di panggung Trimurti (indoor), dan panggung terbuka (outdoor). Pagelaran sendratari dimulai pukul 19.30 WIB sampai 21.30 WIB.

Jika Anda menonton di panggung Trimurti, semua fragmen ditampilkan secara utuh dalam sekali pagelaran. Pagelaran di panggung terbuka kadang hanya menampilkan satu episode dalam sekali pentas dan kadang menampilkan cerita keseluruhan tergantung pada jadwal yang telah dibuat oleh pengelola. Panggung terbuka menawarkan pagelaran yang lebih kolosal dengan jumlah penari yang lebih banyak daripada panggung Trimurti. Waktu di pagelaran untuk panggung Trimurti ataupun di Panggung Terbuka dijadwalkan oleh pihak pengelola. Jadi jika Anda ingin melihat di Panggung terbuka atau di Trimurti harus melihat jadwalnya terlebih dahulu.

Tarif untuk menyaksikan sekali pagelaran tersebut terbagi dalam empat kelas untuk di panggung terbuka ada kelas VIP yang kursinya tepat di depan panggung, kelas khusus yang kursinya ada di depan panggung namun di deretan belakang VIP, kelas I yang kursinya ada di sisi kanan kiri panggung bagian depan dan kelas II yang kursinya ada di kanan kiri panggung di bagian belakang. Sedangkan di panggung Trimurti terbagimenjadi Special Class, Class I, dan Class II.

Seluruh cerita disuguhkan dalam rangkaian gerak tari yang dibawakan oleh para penari yang rupawan dengan diiringi musik gamelan. Anda diajak untuk benar-benar larut dalam cerita dan mencermati setiap gerakan para penari untuk mengetahui jalan cerita. Gerakan para penari menyatu dengan iringan gamelan Jawa yang syahdu. Tak ada dialog yang terucap dari para penari, satu-satunya penutur adalah sinden yang menggambarkan jalan cerita lewat lagu-lagu dalam bahasa Jawa dengan suaranya yang khas. Pencahayaan yang sedemikian rupa mampu menggambarkan kejadian tertentu dalam cerita. Begitu pula riasan pada tiap penari, tak hanya mempercantik tetapi juga mampu menggambarkan watak tokoh yang diperankan sehingga penonton dapat dengan mudah mengenali meski tak ada dialog. Anda juga tak hanya menjumpai tarian saja, tetapi adegan menarik lainnya seperti permainan bola api dan kelincahan penari berakrobat.

Permainan bola api yang menawan juga akan Anda dijumpai ketika Hanoman yang semula akan dibakar hidup-hidup justru berhasil membakar kerajaan Alengkadiraja milik Rahwana. Sementara akrobat bisa dijumpai ketika Hanoman berperang dengan para pengikut Rahwana. Permainan api ketika Shinta hendak membakar diri untuk membuktikan kesuciannya pada suaminya juga menarik untuk disaksikan. Berikut petikan kisah dari Ramayana :

“Cerita dimulai ketika Prabu Janaka mengadakan sayembara untuk menentukan pendamping Dewi Shnta (puterinya) yang akhirnya dimenangkan Rama Wijaya. Dilanjutkan dengan petualangan Rama, Sinta dan adik lelaki Rama yang bernama Laksmana di Hutan Dandaka. Di hutan itulah mereka bertemu Rahwana yang ingin memiliki Sinta karena dianggap sebagai jelmaan Dewi Widowati, seorang wanita yang telah lama dicarinya. Untuk menarik perhatian Sinta, Rahwana mengubah seorang pengikutnya yang bernama Marica menjadi Kijang. Usaha itu berhasil karena Sinta terpikat dan meminta Rama memburunya. Laksmana mencari Rama setelah lama tak kunjung kembali sementara Sinta ditinggalkan dan diberi perlindungan berupa lingkaran sakti agar Rahwana tak bisa menculik. Perlindungan itu gagal karena Shinta berhasil diculik setelah Rahwana mengubah diri menjadi sosok Durna. Jatayu atau Burung Garuda mencoba menolong Dewi Sinta, namun sayapnya malah dipotong oleh Rahwana. Dari Jatayu lah Rama dan Laksmana tahu bahwa yang menculik Dewi Sinta adalah raksasa dari kerajaan Alengka (Sri Lanka). Dalam pencariannya Rama dan laksamana bersekutu dengan pasukan kera pimpinan Sugriwa dan juga bersama kera putih sakti Hanoman. Hanoman yang diperintahkan untuk mencari Dewi Sinta ke Kerajaan Alengka akhirnya tertangkap pasukan Rahwana dan dibakar hidup-hidup, namun Hanoman berhasil lolos. Pada adegan ini penonton yang kebanyakan turis mancanegara dibuat terkesima. Hanoman beratraksi dengan api, seperti melompati api dan membakar `rumah-rumahan’ dari jerami yang merupakan replika Kerajaan Alengka. Di akhir cerita, Sinta berhasil direbut kembali dari Rahwana oleh Hanoman, sosok kera yang lincah dan perkasa. Namun ketika dibawa kembali, Rama tak mempercayai Sinta lagi dan menganggapnya telah ternoda. Sinta diminta membakar raganya, untuk membuktikan kesucian diri. Kesucian Sinta terbukti karena raganya sedikit pun tidak terbakar tetapi justru bertambah cantik. Rama pun akhirnya menerimanya kembali sebagai istri.”

Selama dua jam penuh Anda akan menyaksikan gerak gemulai Sinta, gerak kasar Rahwana yang juga jenaka, gerak Rama dan Laksmana yang tenang dan berkharisma, gerak lincah anoman dan subali serta gerak prajurit kera kecilnya yang memakai kostum warna warni. Sendratari Ramayana di kompleks Prambanan ini didukung kurang lebih 200 seniman yang terdiri dari penari, penyanyi, dan pemain musik tradisional. Pemain mengenakan pakaian khas Jawa yang menggambarkan pakaian yang dikenakan tokoh yang diperankannya, dilengkapi dengan senjata berupa panah, tombak, dan keris. Beberapa penari ada yang mengenakan kostum kera.

Di atas tadi pagelaran Ramayana Ballet yang di Panggung Candi Prambanan yang pementasannya tergantung jadwal yang dibuat oleh pihak pengelolan. Sedangkan jika di Panggung Purawisata pagelaran diselenggarakan setiap malam pukul 20.00 – 21.30 WIB. Sendratari Ramayana di Purawisata ini merupakan Peraih penghargaan Museum Record Indonesia (MURI) tahun 2001 kategori ‘ Pentas Pertunjukkan Tiada Henti selama 29 tahun’. Alur cerita yang sama dengan Sendratari di Prambanan yang intinya mengisahkan cinta antara Rama dan Sinta, angkara murka sang Rahwana, serta kesetiaan dan keberanian Hanuman.

Para seniman pendukung sendratari Ramayana tidak menerima gaji banyak. Mereka menghasilkan pagelaran yang mengagumkan ini hanya karena setia dengan kecintaannya terhadap seni dan budaya warisan leluhur. Jadi jika Anda ke Jogja, luangkan waktu Anda untuk menonton sendratari yang indah ini. Bukan sekedar mencari hiburan namun ikut melestarikan kesinambungan dari budaya bangsa!

WAYANG KULIT di Museum Sonobudoyo

Wayang adalah seni pertunjukkan asli Indonesia yang berkembang pesat di Pulau Jawa dan Bali. UNESCO lembaga yang membawahi kebudayaan dari PBB, pada 7 November 2003 menetapkan wayang sebagai pertunjukkan bayangan boneka tersohor dari Indonesia, sebuah warisan mahakarya dunia yang tak ternilai dalam seni bertutur (Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity). Banyak negara memiliki pertunjukkan boneka namun pertunjukkan bayangan boneka (Wayang) di Indonesia memiliki gaya tutur dan keunikkan tersendiri, yang merupakan mahakarya asli dari Indonesia.

Dr.G.A.J.Hazeu, dalam detertasinya Bijdrage tot de Kennis van het Javaansche Tooneel (Th 1897 di Leiden, Negeri Belanda) berkeyakinan bahwa pertunjukan wayang berasal dari kesenian asli Jawa. Hal ini dapat dilihat dari istilah-istilah yang digunakan banyak menggunakan bahasa Jawa misalnya, kelir, blencong, cempala, kepyak, dan wayang. Selain itu juga bisa dilihat bahwa pada susunan rumah tradisional di Jawa, kita biasanya akan menemukan bagian-bagian ruangan: emper, pendhapa, omah mburi, gandhok, senthong dan ruangan untuk pertujukan ringgit (pringgitan), dalam bahasa Jawa ringgit artinya wayang. Bagi orang Jawa dalam membangun rumah pun menyediakan tempat untuk pergelaran wayang.

Sarjana Barat lainnya yang sependapat bahwa Wayang Kulit berasal dari Jawa yaitu Hazeau, Brandes, Kats, Rentse, dan Kruyt. Alasan mereka adalah bahwa seni wayang masih amat erat kaitannya dengan keadaan sosiokultural dan religi bangsa Indonesia, khususnya orang Jawa. Panakawan, tokoh terpenting dalam pewayangan, yakni Semar, Gareng, Petruk, Bagong, hanya ada dalam pewayangan Indonesia, dan tidak ada di negara lain. Selain itu, nama dan istilah teknis pewayangan, semuanya berasal dari bahasa Jawa (Kuna), dan bukan bahasa lain.

Ir. Sri Mulyono dalam bukunya Simbolisme dan Mistikisme dalam Wayang (1979), memperkirakan wayang sudah ada sejak zaman neolithikum, yakni kira-kira 1.500 tahun sebelum Masehi. Namun bukti karya sastra yang menyebutkan tentang wayang baru ditemukan pada zaman pemerintahan Prabu Airlangga, raja Kahuripan (976 -1012), yakni ketika kerajaan di Jawa Timur itu sedang makmur-makmur¬nya. Wayang sebagai suatu pergelaran dan tontonan pun sudah dimulai ada sejak zaman pemerintahan raja Airlangga. Beberapa prasasti yang dibuat pada masa itu antara lain sudah menyebutkan kata-kata “mawa¬yang” dan `aringgit’ yang maksudnya adalah per¬tunjukan wayang.

Ketika agama Hindu masuk ke Indonesia menyesuaikan kebudayaan yang sudah ada Seni pertunjukkan ini menjadi media efektif menyebarkan agama Hindu, di mana pertunjukkan wayang menggunakan cerita Ramayana dan Mahabharata. Demikian juga saat masuknya Islam, ketika pertunjukkan yang menampilkan manusia dan para dewa dalam wujud manusia dilarang, munculah boneka wayang yang terbuat dari kulit sapi atau kerbau sehingga saat pertunjukkan yang ditonton hanyalah bayangannya saja, yang sekarang kita kenal sebagai wayang kulit. Masuknya agama Islam ke Indonesia sejak abad ke-15 ini juga memberi pengaruh besar pada budaya wayang, terutama pada konsep religi dari falsafah wayang itu. Selain itu yakni juga mulai digunakan lampu minyak berbentuk khusus yang disebut blencong pada pergelaran Wayang Kulit.Kesenian ini berkembang pesat, terjadi akulturasi antara budaya lama dengan budaya baru yaitu ajaran Islam. Stilisasi bentuk wayang kulit sudah sangat berbeda dengan wujud manusia.Gaya penggambaran wayang demikian itu merupakan pilihan para wali. Hal ini ditempuh agar wayang kulit dapat tampil dengan baik dan tidak melanggar larangan menurut ajaran agama Islam yang tidak memperbolehkan menggambarkan makhluk hidup seperti manusia atau binatang secara realistis. Wujud wayang kulit purwa sudah berbeda jauh dengan gambaran manusia, walau wayang kulit memiliki mata, hidung, dan mulut namun bentuk badan keseluruhan tipis, hidung mancung untuk menandakan kebangsawanan, mata sipit dan panjang, bentuk mulut yang berkelok-kelok, leher yang kecil sebesar lengan, serta tangan yang panjang hingga menyentuh kaki tokoh.

Wayang kulit yang juga sering dikenal sebagai wayang purwa telah menjadi salah satu warisan budaya nasional dan sudah sangat terkenal di dunia. Sehingga banyak wisatawan asing yang datang untuk mempelajari seni wayang kulit ini, karena tergolong unik. Saat ini pertunjukan wayang kulit pun masih menjadi salah satu tontonan menarik yang digemari oleh masyarakat Yogyakarta. Kesenian ini menggunakan sebuah layar besar dan lakonan wayang tersebut dimainkan dibalik layar putih tersebut, sehingga para peniknat tontonan ini serasa menonton film kartun ataupun film-film di bioskop. Penggunaan layar imerupakan pengaruh Islam. Wayang yang pada awalnya berbentuk boneka yang terbuat dari kayu dan dinamakan wayang golek, dilarang dipertunjukkan karena hukum Islam melarang menggambaran bentuk dewa-dewi dalam bentuk manusia (boneka). Ketika Raden Patah dari Demak ingin menonton pertunjukan wayang, para pemimpin Islam ini pun melarangnya. Sebagai jalan keluar, para pemimpin Islam ini merubah bentuk wayang menjadi wayang kulit. Pertunjukannya pun melalui media layar, sehingga yang terlihat hanya bayangannya, bukan bentuk aslinya.

Pertunjukan wayang kulit diatur dan dijalankan oleh seorang dalang yang menggerakkan dan mengisi suara-suara tokoh dalam perwayangan tersebut. Yang menarik, ketika pertunjukan wayang kulit berjalan, di tengah-tengahnya biasanya diselingi dengan “goro-goro” yaitu saat munculnya para Punakawan yang terdiri dari Semar, Bagong, Petruk, dan Gareng, biasanya cerita yang diangkat adalah seputar masalah-masalah saat ini yang diselingi hal-hal lucu di dalamnya. Wayang Kulit biasanya diadakan semalam suntuk hingga fajar menyingsing bahkan tidak jarang diadakan selama tujuh hari tujuh malam. Pertunjukan wayang saat ini masih ada yang menggunakan blencong namun tidak sedikit yang telah menggantinya dengan spotlight.

Di Jogjakarta Anda bisa menonton wayang ini di Museum Sonobudoyo. Pertunjukan wayang di sini tidak semalam suntuk namun disajikan secara ringkas dari jam 20.00 -22.00 WIB pada hari kerja. Dalang memainkan wayang kulit sesuai pakemnya yaitu menggunakan bahasa Jawa diiringi dengan musik gamelan Jawa. Panggung dibuat sedemikian rupa sehingga penonton dapat menonton dari belakang dalang atau dari balik layar. Keduanya memberikan sensasi yang berbeda jika Anda menonton dari belakang dalang, Anda dapat melihat warna tokoh-tokoh wayang dan dapat dengan mudah membedakan masing-masing tokoh. Sedangkan jika Anda menonton dari balik layar, Anda dapat melihat bayangan tokoh-tokoh wayang yang tatahan kulit wayangnya membuat bayangan tersebut menjadi indah dan hidup.

Saat sekarang ini sudah jarang orang yang menyelenggarakan wayang semalam suntuk untuk pesta sunatan, pesta pengantin, sukuran dan pesta hajatan lainnya. Hal itu karena harga penyelenggaraan wayang sangat mahal dan juga selera masyarakat yang lebih menyukai hiburan yang lebih kontemporer, seperti keroncong, campursari yang semuanya juga masih merupakan budaya Indonesia. Namun alangkah sayangnya jika wayang kulit yang telah menjadi warisan dunia ini hanya sekedar menjadi kebanggaan tanpa bukti nyata adanya rasa memiliki terhadap wayang ini dari bangsa yang memilikinya. Penonton dari pagelaran wayang kulit di Museum Sonobudoyo ini pun biasanya akan lebih banyak turis mancanegara menyaksikan wayang ini dibandingkan turis domestik.

Jadi luangkan waktu Anda selama dua jam untuk menikmati warisan adiluhung ini!

Masih banyak tempat hiburan malam lain selain yang kami uraikan di atas baik berupa warung makan ataupun angkringan-angkringan di Jogja. Angkringan dengan konsep seperti café di sekitar kampus Jogja Utara ada beberapa di antaranya yang dilengkapi dengan hiburan live musik. Jika Anda ingin ke café pun dengan mudah akan Anda jumpai terutama di daerah turis seperti Prawirotaman maupun Sosrowijayan. Tempat-tempat karaoke dan olah raga seperti futsal, badminton bisa Anda jumpai juga di Jogja pada malam hari. Jadi malam hari Anda di Jogja akan penuh dengan acara!

(Diolah dari berbagai sumber)

About these ads
By rafiqtours

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s