Gn. Mas Puncak _ Bogor

2013-09-22 06.47.17Hasil keliling antar tamu ke daerah gunung mas di medio Oktober lalu bikin cerita sama ketikan sedikit tentang serunya tea walk bareng anakku Ibnu Rasyid Arrafiq juga adikku Muzaeni, he he he

Menapaki Perkebunan teh Gunung Mas Puncak yang terletak pada daerah yang sejuk di ketinggian 800 – 1200 meter Dari Atas Permukaan laut dengan suhu rata – rata 18 – 22 °C, menjadikan Gunung Mas sebuah tempat yang nyaman untuk beristirahat dan berekreasi atau sekedar melepas penat dari kesibukan sehari hari. Berjarak lebih kurang 80 km dari Jakarta ke arah Puncak, Gunung Mas dapat ditempuh hanya dalam waktu 1,5 – 2 jam perjalanan tapi bisa hingga 5 -6 jam jika maceettt yaaaa bro and sist….

Disini akan anda dapati suasana khas daerah perkebunan teh, baik kesejukan udaranya, keindahan panoramanya maupun kehidupan masyarakatnya.Objek wisata yang ada di Gunung Mas sendiri cukup beragam untuk anda nikmati bersama keluarga dan handai taulan, seperti Tea Walk, Pabrik Teh, Berkuda, Terbang Layang. Selain itu, sebagai sebuah obyek wisata dan tempat beristirahat, Gunung Mas juga dilengkapi dengan fasilitas berupa Penginapan, Tea Corner serta Fasilitas penunjang lainnya seperti Ruang Pertemuan, Areal Kemping, Lapangan Tenis dll.

TEA WALK
Tea Walk adalah obyek wisata utama di Gunung Mas, yaitu kegiatan rekreasi berupa jalan santai mengelilingi areal perkebunan teh, menikmati hijaunya daun teh yang menghampar laksana permadani, bersatu dengan alam ditengah udara yang sejuk dan jauh dari polusi. Anda juga dapat menyaksikan sendiri bagaimana teh dipetik. Seorang pemandu akan menemani perjalanan wisata anda. Anda dapat memilih route yang anda inginkan yaitu 4 km, 6 km dan 8 km. Perjalanan anda akan berlangsung antara 1 s/d. 2,5 jam.

Copy of 2013-09-22 08.26.39

PABRIK TEH
Anda tentu tidak asing lagi dengan teh yang mungkin telah menjadi minuman anda sehari hari. Tetapi tahukah anda bagaimana teh diproses dari daun menjadi minuman? Di pabrik teh Gunung Mas anda dapat menyaksikan bagaimana teh diolah sejak dari daun hingga menjadi jenis teh yang telah anda kenal selama ini, yaitu berupa teh curah maupun teh celup. Anda dapat berkunjung ke pabrik teh ini secara perorangan atau kelompok. Sebagai sebuah pengetahuan, kunjungan ini tentu bermanfaat sekali bagi anda, terutama pelajar dan mahasiswa. sayang saat ini kegiatan pabrik teh di gunung mas sudah dipindahkan ke daerah Cianjur, yang ada hanya bangunan pabrik tak terpakai lage saat ini.

BERKUDA
Pilihan acara selanjutnya yang dapat anda nikmati di Gunung Mas ini adalah berkuda mengelilingi kebun teh. Dengan route yang telah ditentukan anda dapat menikmati keindahan alam khas daerah pegunungan yang mungkin tidak anda temukan di tempat tinggal anda.

TERBANG LAYANG
Bagi anda yang menyukai jenis wisata yang agak menantang, anda dapat sedikit bertualang dengan ikut serta terbang layang. Sejenak bebas lepas melayang di langit Gunung Mas yang biru. Biarkan fantasi anda terbang bersama payung payung kami dan menjadikannya pengalaman berkesan yang tak akan pernah anda lupakan

FASILITAS PENGINAPAN
Wisma ( Kamar VIP dan Standar )
Bungalow
Pondokan

uuppsss, nda terasa dech tea walk dari pagi hari … matahari sudah diatas kepala aja, kami harus bersiap kembali ke bus untuk antar tamu kembali ke bilangan Jakarta

By rafiqtours

Pemandian air panas GUCI

tegal_2013 (12)

uuppsss, akhirnya saya dan team Rafiq Tours bersama keluarga kembali menyambangi objek wisata air panas ini lage, he he he….GUCI, nama lokasi ini disebut, adapun sedikit sejarahnya adalah : 

Guci terletak di kaki Gunung Slamet bagian Utara, dengan ketinggian sekitar 1.500 meter dari permukaan air laut mempunyai udara yang sejuk dengan suhu sekitar 20 derajat celcius. Cerita tentang GUCI berawal dari sebuah pedukuhan yang bernama Kaputihan. Kaputihan berarti yang belum tercemar atau masih suci, yang berarti daerah Kaputihan belum tercemar oleh agama dan peradaban lain. Istilah Kaputihan pertama kali yang memperkenalkan adalah Beliau yang dikenal dengan Kyai Ageng Klitik (Kyai Klitik) yang nama sesungguhnya adalah Raden Mas Arya Hadiningrat asal dari Demak. Setelah Beliau Kyai Klitik menetap dan tinggal cukup lama di Lereng Gunung Slamet (kampung Kaputihan) maka banyak warga yang berdatangan dari tempat lain sehingga kampung Kaputihan menjadi ramai. Suatu ketika datanglah Syech Elang Sutajaya utusan Sunan Gunungjati (Syeh Syarief Hidayatulloh) dari pesantren Gunungjati Cirebon untuk syiar islam.

Kebetulan di kampung Kaputihan sedang terjadi pagebluk (bencana alam, penyakit merajalela, tanaman diserang hama dsb), sehingga Beliau Elang Sutajaya memohon petunjuk kepada Alloh SWT dengan semedi kemudian Alloh SWT member petunjuk, supaya masyarakat kampung Kaputihan meningkatkan iman dan taqwanya kepada Alloh SWT dengan menggelar tasyakuran, memperbanyak sedekah dan yang terkena wabah penyakit khususnya gatal-gatal agar meminun air dari kendi (Guci) yang sudah dido’akan oleh Sunan Gunungjati. Dalam kesempatan itu pula Sunan Gunungjati berkenan mendo’akan sumber air panas di kampong Kaputihan agar bisa dipergunakan untuk menyembuhkan segala penyakit. Semenjak itu karena kendi (guci) berisi air yang sudah dido’akan oleh Sunan Gunungjati ditinggal dikampong Kaputihan dan selalu dijadikan sarana pengobatan. Maka sejak saat itu masyarakat sekitar menyebut-nyebut Guci-guci. Sehingga Kyai Klitik selaku Kepala Dukuh Kaputihan Merubahnya menjadi Desa Guci, dan Beliau sebagai Lurah pertamanya.

Guci peninggalan Elang Sutajaya itu berada di Musium Nasional setelah pada pemerintahan Adipati Brebes Raden Cakraningrat membawanya ke Musium.
Sumber : Dinas Pariwisata & Budaya Kab. Tegal.

Guci mudah dijangkau dari berbagai daerah. Dari Slawi Anda bisa naik mini bus jurusan Bumi Jawa. Setelah sekitar tiga puluh menit, Anda berhenti di Desa Tuwel. Di situ banyak kendaraan bak terbuka menunggu penumpang menuju Guci. Dari ditu perjalanan tigapuluh menitpun akan mengantar Anda sampai tempat wisata yang sungguh menarik ini.

Berbatasan dengan Brebes dan Pekalongan Obyek Wisata Guci berada di kaki Gunung Slamet. Guci yang secara geografis masuk ke wilayah Kabupaten Tegal ini merupakan daerah subur yang berudara dingin. Suasana pegununungan sudah tampak ketika kita memasuki daerah kabupaten Tegal. Guci ini tepatnya berlokasi di Kecamatan Bumijawa, Kabupaten Tegal.

Sebelum memasuki obyek wisata pemandian air panas Guci itu akan kita lewati daerah subur dengan pemandangan sawah, perkebunan sayur dan bawang merah akan mendominasi sepanjang kanan dan kiri jalan yang kita lalui. Rasa tak sabar ingin merasakan air yang konon berkhasiat di Guci terhibur dengan pemandangan indah dan udara sejuk itu. Jalan raya menuju Guci yang tidak terlalu ramai semakin merasuk ke dalam jiwa serta membangkitkan suasasa pedesaan nan damai.

Sekitar lima kilometer lagi menuju lokasi, tampak vila-vila atau pemondokan yang berjejer dipinggir disewakan untuk menampung para pelancong yang ingin bermalam. Tegal tidak hanya dikenal dengan Gucinya, teh pocinya tidak boleh dilupakan untuk dicicipi. Rasanya kurang afdol jika sudah sampai di Tegal tidak menghirup tehnya yang kental dan manis. Pocinya yang terbuat dari tanah liat menambah kenikmatan tersendiri.

Ada sekitar 10 air terjun yang terdapat di daerah Guci. Di bagian atas pemandian umum disebut pancuran 13. Agak jauh sekitar satu kilometer, terdapat air terjun dengan air dingin bernama Air Terjun Jedor. Dinamai begitu karena dulu tempat di sekitar air terjun setinggi 15 meter itu adalah milik seorang Lurah yang bernama Lurah Jedor.

Pemandian pancuran 13 adalah lokasi yang paling banyak dikunjungi orang. Disebut begitu karena memiliki pancuran berjumlah tigabelas buah. Pemandian ini bisa dinikmati siapa saja alias tak bayar. Selain itu, berendam di pancuran tujuh merupakan alternative lainnnya. Di pancuran ini, penduduk desa Guci juga sering mandi entah untuk keperluan mencari berkat maupun untuk menyembuhkan penyakit seperti rematik, koreng atau penyakit kulit lain.

Objek wisata ini biasanya ramai dikunjungi pada malam Jumat Kliwon. Banyak orang yang ngalap berkah. Konon,kalau mandi pada jam dua belas malam dengan memohon sesuatu, permohonan apapun akan dikabulkan. Kepercayaan ini sudah turun-temurun. Jika hanya ingin menikmati pemandangan, Guci menawarkan wisata hutan. Sambil jalan-jalan menikmati pemandangan pepohonan pinus, Anda dapat merasakan kesejukan daerah ini.

Jika tidak berminat untuk jalan-jalan, Anda dapat menyewa kuda untuk berkeliling dan melihat air terjun. Dengan begitu Anda dapat menikmati pemandangan tanpa merasa lelah dan sekaligus bisa belajar menunggang kuda. Bila Anda ingin merasa puas berkeliling di area wisata seluas sekitar 210 hektar ini, Anda dapat menginap di daerah ini selama beberapa hari. Ada banyak penginapan di sini, dari kelas melati sampai berbintang.

Sesungguhnyalah objek wisata ini terletak di kaki Gunung Slamet bagian utara dengan ketinggian kurang lebih 1.050 meter dari kota Slawi sekitar 30 km atau dari kota Tegal berjarak tempuh sekitar 40 km ke arah selatan.  Di tempat wisata ini telah tersedia berbagai macam fasilitas seperti penginapan, wisata hutan (wana wisata), kolam renang air panas, lapangan tennis, lapangan sepak bola, hotel, villa dan bumi perkemahan.

tegal_2013 (11)

Waahh, setelah lelah bermain bersama keluarga tiba saatnya kami kembali menuju Slawi, tetapi sebelumnya kami bersilaturahmi kerumah family di kisaran BUMIJAWA….

By rafiqtours

Hotel murah di Malang

Apakah Ngalamers mempunyai budget terbatas tapi membutuhkan tempat menginap di pusat kota Malang yang memiliki akses mudah ? Di bawah ini ada beberapa hotel dengan harga dibawah 200 ribuan namun tetap memiliki fasilitas yang layak.

Hotel Riche
Hotel Riche terletak di lokasi yang sangat strategis, yaitu di alun-alun kota Malang. Karena itu hotel ini memiliki akses mudah ke tempat perbelanjaan, pusat bisnis, tempat ibadah, serta landmark kota Malang lainnya. Hotel Riche memiliki keunggulan dalam hal nuansa yang klasik dan bersejarah. Tarif menginap di hotel ini berkisar antara Rp. 180.000 hingga Rp. 425.000 per malamnya.

Hotel Riche

Hotel Splendid
Ngalamers pasti sudah sangat familiar dengan Hotel Splendid atau biasa disebut dengan Splendid Inn ini. Letaknya yang berada di kompleks alun-alun Tugu membuat hotel ini memiliki akses yang mudah ke fasilitas transportasi seperti stasiun kereta dan angkot. Sedangkan dari terminal Arjosari, hotel ini berjarak sekitar 20 menit dengan kendaraan. Hotel yang berdiri sejak 1973 ini kerap menjadi jujugan wisatawan asing maupun lokal yang sedang berkunjung ke Malang. Hal ini dikarenakan tarifnya yang cukup murah meskipun berada di tengah kota, yaitu sekitar Rp. 175.000 hingga Rp. 210.000.

Hotel Splendid

Hotel Helios
Reputasi Hotel Helios sudah mendunia. Para backpackers (wisatawan ransel) pun kerap memilih hotel ini jika sedang menjelajah kota Malang. Hotel Helios yang terletak di kawasan Klojen ini berjarak 10 menit ke pusat kota, 5 menit ke stasiun Kota Baru Malang, dan 15 menit ke terminal Arjosari. Hotel ini juga menyediakan layanan tur ke tujuan wisata populer, seperti Gunung Bromo, Kawah Ijen, dan Pulau Sempu. Tarif menginap per malam di Hotel Helios adalah Rp. 180.000 hingga Rp. 400.000. Mereka juga menyediakan penginapan khusus backpackers berbentuk gazebo dengan tarif Rp. 85.000 untuk 2 orang.

Hotel Helios

Hotel Pajajaran
Hotel Pajajaran memang tidak terlalu mewah, namun layak untuk dijadikan tempat bermalam di Malang. Apalagi hotel ini terletak di poros utama kota Malang sekaligus jalan penghubung Malang-Surabaya sehingga memudahkan akses ke tempat-tempat penting di kota Malang. Untuk bisa menginap di Hotel Pajajaran Ngalamers harus menyiapkan uang antara Rp. 110.000 hingga Rp. 298.000.

Hotel Pajajaran

Bagaimana Ngalamers ? Ternyata cukup banyak juga pilihan menginap hemat di Malang ya. Oh ya, semua harga diatas bisa berubah sewaktu-waktu yaaa

By rafiqtours

waduk sempor @ gombong nan mempesona

sempor (9)

Kalau sedang traveling ke Jawa Tengah, cobalah mampir ke Kecamatan Gombong di Kabupaten Kebumen. Di sini terdapat Waduk Sempor yang sejuk dan berpanorama cantik. Tak kalah dengan Waduk Jatiluhur di Purwakarta, Jawa Barat.

Jalan-jalan ke Gombong, Jawa Tengah, belum lengkap tanpa mengunjungi tempat ini. Sempor adalah salah satu waduk terbesar yang ada di daerah selatan Jawa Tengah, selain Wadaslintang.

Waduk ini dibangun untuk membantu pengairan sawah yang ada di Kebumen, Banyumas, dan Cilacap. Lokasinya cukup strategis, sehingga pemerintah Kabupaten Kebumen mempromosikannya sebagai objek wisata.

Waduk ini sangat cantik, dan punya beberapa fasilitas wisata. Traveler bisa naik perahu keliling waduk, berfoto ria, atau sekadar melepas lelah dengan berteduh di bawah pohon rindang. Tak sulit untuk mencapai Waduk Sempor, Anda bisa naik kendaraan pribadi atau kendaraan umum menuju Kecamatan Sempor.

sempor (22)

Tiket masuknya sangat murah, Rp 2.000 saja per orang. Sayang, pemerintah setempat tampak kurang serius mempromosikan waduk ini. Hal itu terbukti dari minimnya promosi, serta fasilitas yang kini sudah tak beroperasi seperti hotel dan restoran. Panggung hiburan pun tampak terbengkalai. Padahal, Waduk Sempor bisa jadi objek wisata yang potensial.

By rafiqtours

Wisata Malam di Djogja

Anda ingin menikmati keindahan malam di Jogja? Ada banyak obyek dan tempat alternative berwisata malam di kota ini. Berikut beberapa wisata malam yang patut Anda nikmati:

PASAR SORE MALIOBORO

Jika Anda mencari oleh-oleh sekaligus ingin jalan-jalan maka Pasar Sore Malioboro bisa menjadi salah satu referensi Anda. Pasar ini berada di kawasan Malioboro yaitu sebelah utara Benteng Vredeburg Lebih dari 20 pedagang menempati pasar sore sejak tahun 2000. Sebelumnya, para pedagang tersebut menggelar dagangan mereka di depan dan selatan Benteng Vredenburg. Kondisi jalan Malioboro dan sekitarnya yang padat ditambah dengan keberadaan para pedagang di trotoar membuat jalan semakin semrawut sehingga Pemkot Jogjakarta akhirnya meminta mereka pindah ke lokasi parkir di sisi selatan Pasar Beringharjo itu.

Para pedagang di Pasar Sore Malioboro mulai memajang dagangan sejak pukul 17.00 WIB hingga larut malam tergantung pada keramaian pembeli. Mayoritas pedagang di Pasar Sore Malioboro berdagang berbagai macam jenis dan bentuk pakaian untuk semua umur, tas, sandal, dan sepatu. Anda juga bisa menjumpai oleh-oleh khas Jogjakarta seperti bakpia, geplak, dan sebagainya. Setelah puas mengitari Pasar Sore ini Anda bisa langsung berjalan ke arah selatan jalan Malioboro atau depan Benteng Vredeburg. Di sana bisa duduk-duduk santai menikmati malam di jantung kota Jogja sambil menikmati jajanan yang ditawarkan para pedagang dan memandang gedung-gedung tua di sekitarnya seperti Gedung Agung yang juga merupakan Istana Kepresidenan, Gedung BI dan tentu saja Benteng Vredeburg. Suara pengamen juga akan terdengar menghiasi keramaian suasanan di sana.

Bersantai sambil mencari oleh-oleh untuk orang di rumah, Pasar Sore sekitarnya adalah pilihan yang tepat!

LESEHAN MALIOBORO

Malioboro merupakan salah satu icon dari kota Jogja. Sebuah jalan dengan deretan toko dan para pedagang kaki lima yang sangat terkenal di seluruh Indonesia. Mulai dari jam 09.00 – 21.00 WIB, para wisatawan bisa memilih barang yang.hendak dibeli di sepanjang Jalan Malioboro mulai dari pakaian, makanan, cindera mata, tas, sepatu, dan sebagainya. Jika malam telah tiba Anda akan menemui tema lain di Malioboro ini. Ketika semua toko, mall, dan pedagang kaki lima tutup mulailah berganti pedagang lesehan yang menggelar dagangannya. Inilah ciri khas Jalan Malioboro pada malam hari, yaitu warung-warung lesehan yang dapat Anda temui di sepanjang Jalan Malioboro. Kebanyakan warung menggunakan alas tikar dan meja pendek. Lesehan memang artinya duduk santai di lantai. Menu dari warung-warung ini mulai dari bebek goreng, ayam goreng, ayam panggang, burung dara goreng, sate, pecel lele, seafood dan tak lupa gudeg Jogja.Cobalah Anda datangi lesehan yang memajang daftar harganya supaya Anda bisa memperkirakan uang yang akan Anda keluarkan untuk makanan tersebut. Sebab memang ada warung lesehan yang tidak memasang harga dan ketika membayar membuat pembeli terkejut karena makanan yang mahal.. Sekarang hampir semua pedagang lesehan telah memasang daftar harga makanan yang mereka jual. Harga memang biasanya lebih mahal dibandingkan dengan lesehan tempat lain di Jogja. Namun di Malioboro ini selain makan malam, Anda sekaligus menikmati kawasan wisata yang memiliki daya pikat dan ciri khas-nya sendiri. Diiringi seniman-seniman jalanan Jogja, santap malam Anda akan terasa lebih indah. Ada pengamen yang hanya bermodal peralatan seadanya, ada yang tampil profesional dengan peralatan lengkap dan kadang kala lelaki tua dengan siter-nya pun mengamen di warung-warung lesehan Malioboro. Selain itu para seniman lukis wajah juga acapkali datang menawarkan jasa untuk pengunjung warung.. Hanya dalam hitungan menit, hasil lukisan karikatur sudah bisa dinikmati pemesannya. Silahkan menikmati suasana lesehan Malioboro dengan segala “pernak-perniknya!”

TUGU JOGJA

Tugu Yogyakarta adalah sebuah menara yang sering dipakai sebagai lambang dari kota Yogyakarta. Tugu ini dibangun oleh Hamengkubuwana I, pendiri kraton Yogyakarta, setahun setelah didirikannya Kraton Jogja. Tugu Jogja merupakan landmark Kota Yogyakarta yang paling terkenal. Tugu ini mempunyai nilai simbolis dan merupakan garis yang bersifat magis menghubungkan laut selatan, Kraton Jogja dan Gunung Merapi. Pada saat melakukan meditasi, konon Sultan Yogyakarta pada waktu itu menggunakan tugu ini sebagai patokan arah menghadap puncak gunung Merapi.

Saat awal dibangun tugu ini berbentuk tiang silinder (gilig) yang mengerucut ke atas, bagian dasarnya berupa pagar yang melingkar dan bagian puncaknya berbentuk bulat (golong) sehingga disebut sebagai Tugu Golong Gilig dengan ketinggian mencapai 25 meter. Kondisi tugu berubah setelah terjadinya gempa besar 18 Juni 1867 yang membuat bangunan tugu ini runtuh. Tugu itu kemudian diperbaiki oleh Opzichter van Waterstaat/Kepala Dinas Pekerjaan Umum, JWS van Brussel di bawah pengawasan Pepatih Dalem Kanjeng Raden Adipati Danurejo V. Lalu tugu baru itu diresmikan HB VII pada 3 Oktober 1889. Oleh pemerintah Belanda, tugu itu disebut De Witte Paal (Tugu Putih). Bentuknya menjadi berbeda, yakni tiang tugu dibuat persegi dengan tiap sisi diberi semacam prasasti yang menunjukan siapa saja yang terlibat dalam pengerjaan renovasi tersebut. Tugu hasil renovasi dari Belanda ini puncaknya berbentuk kerucut yang runcing dengan ketinggian tugu 15 meter. Sejak saat itu, tugu ini disebut juga sebagai De Witt Paal atau Tugu Pal Putih karena catnya berwarna putih.

Tugu Jogja ini sekarang merupakan salah satu objek pariwisata dan sering dijadikan obyek foto oleh para wisatawan. Tugu akan sangat indah dinikmati sore hingga malam hari saat bermandikaan cahaya dari lampu sorot yang menghiasi bangunan tersebut. Lebih menyenangkan sambil menikmati makanan dan jajanan di sekitar Tugu, seperti gudeg, angkringan, pecel lele, dll. Banyak wisatawan terutama anak-anak muda berfoto untuk mengabadikan wisata mereka di Jogja. Setelah itu mereka duduk-duduk bergerombol hingga lewat dini hari di sekitarnya. Jika Anda berjalan ke selatan, di sebelah Timur jalan tersedia bangku yang bisa dipakai untuk duduk-duduk santai sambil memandang Tugu yang menjadi salah satu icon anak-anak muda yang suka nongkrong hingga larut malam. Namun jika siang hari, Tugu sering kali dipakai para mahasiswa untuk menggelar unjuk rasa. Begitu identiknya Tugu Jogja dengan kota ini, banyak mahasiswa meluapkan kebahagiannya atas kelulusannya dengan meemeluk dan mencium Tugu tersebut.

Belum bisa dikatakan ke Jogja kalau belum menyentuh Tugu Jogja! Anda sudah menyentuh Tugu ini?

ANGKRINGAN JOGJA

Angkringan adalah semacam warung makan yang berupa gerobag kayu yang ditutupi dengan terpal plastik dengan warna khas, biru atau oranye menyolok. Dengan kapasitas sekitar 8 orang pembeli, angkringan beroperasi mulai sore hari sampai dini hari. Namun kini ada juga yang mulai buka siang hari. Pada malam hari, angkringan mengandalkan penerangan tradisional lampu senthir dengan bahan baker minyak tanah. Selain itu terangnya lampu jalan juga membuat suasana warung angkring makin terang.

Menu makanan wajib angkringan adalah nasi (sego) kucing. Disebut nasi kucing karena porsinya seperti nasi yang seperti porsi nasi dan lauk pauk yang biasa diberikan untuk kucing, yaitu tempe atau ikan teri Nasi yang dijual di angkringan ini di bungkus dengan daun pisang dengan lauk biasanya sambal tempe, teri, atau telur dadar yang dipotong kecil-kecil. Menu lain yang tersaji dalam keranjang di atas angkringan adalah sate usus, jeroan, dan telur puyuh. Selain itu ada ceker ayam, gorengan, dan bebrapa makanan ringan. Sedangkan pilihan minuman yang biasa ada di angkringan adalah wedang jahe, teh, jeruk, kopi, dan beberapa minuman praktis lainnya. Semua dijual dengan harga yang sangat terjangkau.

Sejarah angkringan di Jogja dimulai sekitar tahun 1950-an yang dipelopori oleh seorang pendatang dari Cawas, Klaten bernama Mbah Pairo. Cawas yang secara adminstratif termasuk wilayah Klaten Jawa Tengah merupakan daerah tandus terutama di musim kemarau. Tidak adanya lahan subur yang bisa diandalkan untuk menyambung hidup, membuat Mbah Pairo mengadu nasib ke kota Jogja. Mbah Pairo inilah pionir angkringan di Jogja. Berbeda dengan angkringan saat ini yang memakai gerobak, diawal kemunculannya angkringan menggunakan pikulan sebagai alat sekaligus center of interest. Bertempat di sekitar Stasiun Tugu Mbah Pairo menggelar dagangannya. Pada masa Mbah Pairo berjualan, angkringan dikenal dengan sebutan ting-ting hik (baca: hek). Hal ini disebabkan karena penjualnya berteriak “Hiiik…iyeek” ketika menjajakan dagangan mereka. Istilah hik sering diartikan sebagai Hidangan Istimewa Kampung. Sebutan hik sendiri masih ditemui di Solo hingga saat ini, tetapi untuk di Jogja istilah angkringan lebih populer.

Demikian sejarah angkringan di Jogjakarta bermula. Usaha angkringan Mbah Pairo ini kemudian diwarisi oleh Lik Man, putra Mbah Pairo sekitar tahun 1969. Lik Man yang kini menempati sebelah utara Stasiun Tugu sempat beberapa kali berpindah lokasi. Seiring bergulirnya waktu, lambat laun bisnis ini kemudian menjamur hingga pada saat ini sangat mudah menemukan angkringan di setiap sudut Kota Jogja. Angkringan Lik Man menjadi yang paling dikenal di dalam dan luar Jogja. Warung angkringan Lik Man memiliki minuman spesial yaitu kopi joss. Kopi ini berbeda dengan kopi lainnya, yaitu pada saat akan dihidangkan gelas kopi dicelupkan arang panas yang menimbulkan bunyi jossss. Banyak sekali peminat dari angkringan Lik Man ini. Hal tersebut bisa Anda buktikan jika. Anda banyak menemukan puluhan orang sedang lesehan karena area angkringan tersebut sangat sempit. Warung angkringan Lik Man kini telah menjadi salah satu ikon wisata kuliner di Jogja. Angkringan Tugu Lik Man ini buka dari sore hingga menjelang subuh.

Selain Angkringan. Tugu tersebut sekarang di Jogja telah ada banyak warung angkring dari kota hingga pelosok kampung dan menjadi tempat alternative untuk melepas penat, bertemu dengan teman atau sekedar bersantai dan kumpul-kumpul sambil minum dan makan. Pembicaraan yang ada di angkringan bisa mulai dari pelajaran di sekolah, masalah social, budaya, olah raga, politik dan semua sisi kehidupan.

Jika Anda ke Jogja, warung angkringan harus Anda masukkan dalam catatan wisata kuliner Anda. Selain merasakan menu dan harganya yang merakyat juga nuansa keramahan dan keakraban yang akan Anda jumpai!

BUKIT BINTANG

Hargodumilah atau sering disebut Bukit Bintang terletak di jalan Jogja-Wonosari km 16 Pathuk Gunungkidul. Pemberian nama bukit bintang ini karena dari sini jika di malam hari memandang kota Jogja akan terlihat lampu rumah-rumah bersinar dari kejauhan seperti bintang bertaburan berpadu dengan langit malam yang memang penuh bintang. Hal itu membuat pemandangan kota Jogja tampak menyatu antara langit sampai batas cakrawala. Terlihat begitu indah!

Pada siang hari pun Anda akan melihat pemandangan yang menakjubkan yaitu Gunung Merapi,Gunung Merbabu, Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing yang berdiri tegak memamerkan keindahan di kejauhan sana. Saat mengunjungi Hargodumilah di kala senja, Anda akan menyaksikan sunset di atas kota Jogja. Keindahan akan berlanjut saat malam dengan kerlap-kerlip kota Yogyakarta yang akan Anda saksikan dari bukit ini. Banyak wisatawan yang kebanyakan kaum muda datang menikmati suasana di sini. Ruas jalan di sekitar bukit telah diperluas sebagai arena parkir para pengunjung. Warung-warung kecil sampai restoran dengan nuansa romantis berjejer di jalan tersebut. Sangat cocok bagi Anda yang ingin mencari ketenangan dengan rekan-rekan, pasangan, ataupun keluarga dengan duduk-duduk, menikmati minuman dan jajanan sambil memandangi keindahan kota Jogja dari kejauhan.

Cobalah menikmati keindahan Jogja dari sisi yang berbeda di bukit ini! Tidak hanya kaya akan budaya, Jogja juga memiliki keindahan alam yang sangat menakjubkan.

ALUN-ALUN SELATAN

 

Alun-alun Kidul (Selatan) atau sering disebut Alkid adalah alun-alun di bagian Selatan Keraton Yogyakarta. Alkid sering pula disebut sebagai Pengkeran, berasal dari kata pengker (bahasa Jawa) yang berarti belakang. Hal tersebut sesuai dengan letak Alkid yang memang terletak di belakang keraton. Alun-alun ini dikelilingi oleh tembok persegi yang memiliki lima gapura, satu buah di sisi selatan serta di sisi timur dan barat masing-masing dua buah. Di antara gapura utara dan selatan di sisi barat terdapat ngGajahan sebuah kandang guna memelihara gajah milik Sultan. Namun sekarang gajah-gajah milik Sultan telah dititipkan di kebun binatang Gembiroloka. Di sekeliling alun-alun ditanami pohon mangga (Mangifera indica; famili Anacardiaceae), pakel (Mangifera sp; famili Anacardiaceae), dan kueni (Mangifera odoranta; famili Anacardiaceae). Pohon beringin hanya terdapat dua pasang. Sepasang di tengah alun-alun yang dinamakan Supit Urang (harfiah=capit udang) dan sepasang lagi di kanan-kiri gapura sisi selatan yang dinamakan Wok(dari kata bewok, harfiaf=jenggot). Dari gapura sisi selatan terdapat jalan Gading yang menghubungkan dengan Plengkung Nirbaya.

Pada awalnya alkid ini dibuat untuk mengubah suasana bagian belakang keraton menjadi seperti bagian depan karena pada dasarnya antara Gunung Merapi, Keraton Yogyakarta dan laut selatan pulau jawa terbentuk garis imajiner yang menghubungkan kesatuan tersebut. Saat itu alkid digunakan sebagai tempat para prajurit berlatih ketangkasan. Latihan-latihan yang digelar antara lain: setonan (ketangkasan berkuda), manahan (ketangkasan memanah sambil duduk bersila), rampog macan (lomba adu macan). Di alkid inilah dulu para petinggi prajurit beserta anak buahnya melakukan kegiatan sowan (menghadap) raja. Selain itu para prajurit juga melatih konsentrasi dengan berjalan di antara dua ringin kurung di Alkid dengan mata terpejam yang disebut masangin.

Saat ini latihan rutin ketangkasan seperti disebut di atas sudah tidak ada lagi. Acara sowan para prajurit di alkid pun telah dihilangkan sejak jaman Sultan Hamengkubuwana VIII. Namun pada saat-saat tertentu, pihak Kraton Jogjakarta menggelar wayang kulit semalam seuntuk di Sasono Hinggil Dwi Abad (sebelah utara alun-alun kidul). Selain itu, sehari menjelang perayaan Grebeg semua prajurit berkumpul dan berlatih di Alkid. Selain itu ada yang khas di alun-alun selatan sejak sekitar tahun 1990-an, ialah tentang mulai banyaknya pengunjung alkid dan bermain masangin. Mitos yang dipercaya turun temurun bahwa orang yang berhasil melakukan masangin, yaitu berjalan melewati di antara dua beringin tersebut dengan mata tertutup adalah orang berhati bersih dan permohonannya akan dikabulkan serta akan mendapat berkah.

Kegiatan itu setiap hari ramai dilakukan oleh wisatawan. Kalau Sabtu malam, akan penuh orang menjalani permainan masangin ini selain tentu saja bersantai menikmati keramaian sambil mencicipi makanan dan minuman di sana. Pukul lima sore tenda-tenda pedagang mulai didirikan dan bahan makanan atau minuman yang akan dijajakan pun disiapkan. Makanan dan minuman yang dijajakan antara lain ronde, sebuah minuman berkomposisi wedang jahe, kacang, kolang kaling dan bulatan dari tepung beras berisi gula jawa cair yang hangat. Selain itu ada wedang bajigur yang terbuat dari santan kelapa, jahe, bubuk kopi dan sirup gula jawa. Biasanya, wedang ini diisi irisan roti tawar, kelapa yang diiris kotak dan kolang-kaling. Wedang bajigur dan ronde ini akan menghangatkan tubuh Andadari dinginnya malam di alkid.

Dengan konsep lesehan, umumnya warung makan di kawasan alun-alun ini menjajakan makanan dengan harga tak mahal. Aneka macam makanan yang dibakar pun bisa Anda cicipi di sini seperti jagung bakar, pisang bakar dan roti baker, nasi kucing yang merupakan makanan khas Jogja, ayam baker, ikan bakar hingga tempe tersedia. Suasana makan Anda akan diselingi oleh nyanyian para pengamen yang akan mendatangi tempat makan Anda. Selain itu ada lagi kegiatan yang bisa Anda nikmati di Alkid yaitu bersepeda mengelilingi alkid. Ada beberapa macam sepeda yang dapat Anda sewa di sana yang dapat dikayuh bersama-sama.

Cobalah bermain masangin. Anda akan merasakan penasaran jika Anda justru berjalan belok atau menjauhi jalan di antara dua beringin tersebut!

SENDRATARI RAMAYANA

Sendratari Ramayana atau dikenal juga dengan Ramayana Balet merupakan sebuah pagelaran yang menggabungkan antara seni drama dan seni tari dengan iringan musik traditional Jawa. Ramayana Ballet mengangkat cerita Ramayana yang merupakan sebuah legenda yang terpahat indah di dinding Candi Siwa, salah satu candi yang ada di Candi Prambanan. Jika Anda berada di Candi Prambanan dan berjalan pradaksina (searah jarum jam) Anda akan menemukan alur cerita Ramayana yang ada pada relief tersebut. Kisah Ramayana adalah epos legendaris karya Walmiki yang ditulis dalam bahasa Sanskerta. Pagelaran ini dapat Anda saksikan di kawasan kompleks Candi Prambanan dan di Purawisata Jogja. Pihak pengelola, PT Taman Wisata Candi Borobudur-Prambanan dan Ratu Boko, membagi pagelaran dalam empat episode yaitu, penculikan Sinta, misi Anoman ke Alengka, kematian Kumbakarna atau Rahwana, dan pertemuan kembali Rama-Sinta. Terdapat dua lokasi pertunjukan, yakni di panggung Trimurti (indoor), dan panggung terbuka (outdoor). Pagelaran sendratari dimulai pukul 19.30 WIB sampai 21.30 WIB.

Jika Anda menonton di panggung Trimurti, semua fragmen ditampilkan secara utuh dalam sekali pagelaran. Pagelaran di panggung terbuka kadang hanya menampilkan satu episode dalam sekali pentas dan kadang menampilkan cerita keseluruhan tergantung pada jadwal yang telah dibuat oleh pengelola. Panggung terbuka menawarkan pagelaran yang lebih kolosal dengan jumlah penari yang lebih banyak daripada panggung Trimurti. Waktu di pagelaran untuk panggung Trimurti ataupun di Panggung Terbuka dijadwalkan oleh pihak pengelola. Jadi jika Anda ingin melihat di Panggung terbuka atau di Trimurti harus melihat jadwalnya terlebih dahulu.

Tarif untuk menyaksikan sekali pagelaran tersebut terbagi dalam empat kelas untuk di panggung terbuka ada kelas VIP yang kursinya tepat di depan panggung, kelas khusus yang kursinya ada di depan panggung namun di deretan belakang VIP, kelas I yang kursinya ada di sisi kanan kiri panggung bagian depan dan kelas II yang kursinya ada di kanan kiri panggung di bagian belakang. Sedangkan di panggung Trimurti terbagimenjadi Special Class, Class I, dan Class II.

Seluruh cerita disuguhkan dalam rangkaian gerak tari yang dibawakan oleh para penari yang rupawan dengan diiringi musik gamelan. Anda diajak untuk benar-benar larut dalam cerita dan mencermati setiap gerakan para penari untuk mengetahui jalan cerita. Gerakan para penari menyatu dengan iringan gamelan Jawa yang syahdu. Tak ada dialog yang terucap dari para penari, satu-satunya penutur adalah sinden yang menggambarkan jalan cerita lewat lagu-lagu dalam bahasa Jawa dengan suaranya yang khas. Pencahayaan yang sedemikian rupa mampu menggambarkan kejadian tertentu dalam cerita. Begitu pula riasan pada tiap penari, tak hanya mempercantik tetapi juga mampu menggambarkan watak tokoh yang diperankan sehingga penonton dapat dengan mudah mengenali meski tak ada dialog. Anda juga tak hanya menjumpai tarian saja, tetapi adegan menarik lainnya seperti permainan bola api dan kelincahan penari berakrobat.

Permainan bola api yang menawan juga akan Anda dijumpai ketika Hanoman yang semula akan dibakar hidup-hidup justru berhasil membakar kerajaan Alengkadiraja milik Rahwana. Sementara akrobat bisa dijumpai ketika Hanoman berperang dengan para pengikut Rahwana. Permainan api ketika Shinta hendak membakar diri untuk membuktikan kesuciannya pada suaminya juga menarik untuk disaksikan. Berikut petikan kisah dari Ramayana :

“Cerita dimulai ketika Prabu Janaka mengadakan sayembara untuk menentukan pendamping Dewi Shnta (puterinya) yang akhirnya dimenangkan Rama Wijaya. Dilanjutkan dengan petualangan Rama, Sinta dan adik lelaki Rama yang bernama Laksmana di Hutan Dandaka. Di hutan itulah mereka bertemu Rahwana yang ingin memiliki Sinta karena dianggap sebagai jelmaan Dewi Widowati, seorang wanita yang telah lama dicarinya. Untuk menarik perhatian Sinta, Rahwana mengubah seorang pengikutnya yang bernama Marica menjadi Kijang. Usaha itu berhasil karena Sinta terpikat dan meminta Rama memburunya. Laksmana mencari Rama setelah lama tak kunjung kembali sementara Sinta ditinggalkan dan diberi perlindungan berupa lingkaran sakti agar Rahwana tak bisa menculik. Perlindungan itu gagal karena Shinta berhasil diculik setelah Rahwana mengubah diri menjadi sosok Durna. Jatayu atau Burung Garuda mencoba menolong Dewi Sinta, namun sayapnya malah dipotong oleh Rahwana. Dari Jatayu lah Rama dan Laksmana tahu bahwa yang menculik Dewi Sinta adalah raksasa dari kerajaan Alengka (Sri Lanka). Dalam pencariannya Rama dan laksamana bersekutu dengan pasukan kera pimpinan Sugriwa dan juga bersama kera putih sakti Hanoman. Hanoman yang diperintahkan untuk mencari Dewi Sinta ke Kerajaan Alengka akhirnya tertangkap pasukan Rahwana dan dibakar hidup-hidup, namun Hanoman berhasil lolos. Pada adegan ini penonton yang kebanyakan turis mancanegara dibuat terkesima. Hanoman beratraksi dengan api, seperti melompati api dan membakar `rumah-rumahan’ dari jerami yang merupakan replika Kerajaan Alengka. Di akhir cerita, Sinta berhasil direbut kembali dari Rahwana oleh Hanoman, sosok kera yang lincah dan perkasa. Namun ketika dibawa kembali, Rama tak mempercayai Sinta lagi dan menganggapnya telah ternoda. Sinta diminta membakar raganya, untuk membuktikan kesucian diri. Kesucian Sinta terbukti karena raganya sedikit pun tidak terbakar tetapi justru bertambah cantik. Rama pun akhirnya menerimanya kembali sebagai istri.”

Selama dua jam penuh Anda akan menyaksikan gerak gemulai Sinta, gerak kasar Rahwana yang juga jenaka, gerak Rama dan Laksmana yang tenang dan berkharisma, gerak lincah anoman dan subali serta gerak prajurit kera kecilnya yang memakai kostum warna warni. Sendratari Ramayana di kompleks Prambanan ini didukung kurang lebih 200 seniman yang terdiri dari penari, penyanyi, dan pemain musik tradisional. Pemain mengenakan pakaian khas Jawa yang menggambarkan pakaian yang dikenakan tokoh yang diperankannya, dilengkapi dengan senjata berupa panah, tombak, dan keris. Beberapa penari ada yang mengenakan kostum kera.

Di atas tadi pagelaran Ramayana Ballet yang di Panggung Candi Prambanan yang pementasannya tergantung jadwal yang dibuat oleh pihak pengelolan. Sedangkan jika di Panggung Purawisata pagelaran diselenggarakan setiap malam pukul 20.00 – 21.30 WIB. Sendratari Ramayana di Purawisata ini merupakan Peraih penghargaan Museum Record Indonesia (MURI) tahun 2001 kategori ‘ Pentas Pertunjukkan Tiada Henti selama 29 tahun’. Alur cerita yang sama dengan Sendratari di Prambanan yang intinya mengisahkan cinta antara Rama dan Sinta, angkara murka sang Rahwana, serta kesetiaan dan keberanian Hanuman.

Para seniman pendukung sendratari Ramayana tidak menerima gaji banyak. Mereka menghasilkan pagelaran yang mengagumkan ini hanya karena setia dengan kecintaannya terhadap seni dan budaya warisan leluhur. Jadi jika Anda ke Jogja, luangkan waktu Anda untuk menonton sendratari yang indah ini. Bukan sekedar mencari hiburan namun ikut melestarikan kesinambungan dari budaya bangsa!

WAYANG KULIT di Museum Sonobudoyo

Wayang adalah seni pertunjukkan asli Indonesia yang berkembang pesat di Pulau Jawa dan Bali. UNESCO lembaga yang membawahi kebudayaan dari PBB, pada 7 November 2003 menetapkan wayang sebagai pertunjukkan bayangan boneka tersohor dari Indonesia, sebuah warisan mahakarya dunia yang tak ternilai dalam seni bertutur (Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity). Banyak negara memiliki pertunjukkan boneka namun pertunjukkan bayangan boneka (Wayang) di Indonesia memiliki gaya tutur dan keunikkan tersendiri, yang merupakan mahakarya asli dari Indonesia.

Dr.G.A.J.Hazeu, dalam detertasinya Bijdrage tot de Kennis van het Javaansche Tooneel (Th 1897 di Leiden, Negeri Belanda) berkeyakinan bahwa pertunjukan wayang berasal dari kesenian asli Jawa. Hal ini dapat dilihat dari istilah-istilah yang digunakan banyak menggunakan bahasa Jawa misalnya, kelir, blencong, cempala, kepyak, dan wayang. Selain itu juga bisa dilihat bahwa pada susunan rumah tradisional di Jawa, kita biasanya akan menemukan bagian-bagian ruangan: emper, pendhapa, omah mburi, gandhok, senthong dan ruangan untuk pertujukan ringgit (pringgitan), dalam bahasa Jawa ringgit artinya wayang. Bagi orang Jawa dalam membangun rumah pun menyediakan tempat untuk pergelaran wayang.

Sarjana Barat lainnya yang sependapat bahwa Wayang Kulit berasal dari Jawa yaitu Hazeau, Brandes, Kats, Rentse, dan Kruyt. Alasan mereka adalah bahwa seni wayang masih amat erat kaitannya dengan keadaan sosiokultural dan religi bangsa Indonesia, khususnya orang Jawa. Panakawan, tokoh terpenting dalam pewayangan, yakni Semar, Gareng, Petruk, Bagong, hanya ada dalam pewayangan Indonesia, dan tidak ada di negara lain. Selain itu, nama dan istilah teknis pewayangan, semuanya berasal dari bahasa Jawa (Kuna), dan bukan bahasa lain.

Ir. Sri Mulyono dalam bukunya Simbolisme dan Mistikisme dalam Wayang (1979), memperkirakan wayang sudah ada sejak zaman neolithikum, yakni kira-kira 1.500 tahun sebelum Masehi. Namun bukti karya sastra yang menyebutkan tentang wayang baru ditemukan pada zaman pemerintahan Prabu Airlangga, raja Kahuripan (976 -1012), yakni ketika kerajaan di Jawa Timur itu sedang makmur-makmur¬nya. Wayang sebagai suatu pergelaran dan tontonan pun sudah dimulai ada sejak zaman pemerintahan raja Airlangga. Beberapa prasasti yang dibuat pada masa itu antara lain sudah menyebutkan kata-kata “mawa¬yang” dan `aringgit’ yang maksudnya adalah per¬tunjukan wayang.

Ketika agama Hindu masuk ke Indonesia menyesuaikan kebudayaan yang sudah ada Seni pertunjukkan ini menjadi media efektif menyebarkan agama Hindu, di mana pertunjukkan wayang menggunakan cerita Ramayana dan Mahabharata. Demikian juga saat masuknya Islam, ketika pertunjukkan yang menampilkan manusia dan para dewa dalam wujud manusia dilarang, munculah boneka wayang yang terbuat dari kulit sapi atau kerbau sehingga saat pertunjukkan yang ditonton hanyalah bayangannya saja, yang sekarang kita kenal sebagai wayang kulit. Masuknya agama Islam ke Indonesia sejak abad ke-15 ini juga memberi pengaruh besar pada budaya wayang, terutama pada konsep religi dari falsafah wayang itu. Selain itu yakni juga mulai digunakan lampu minyak berbentuk khusus yang disebut blencong pada pergelaran Wayang Kulit.Kesenian ini berkembang pesat, terjadi akulturasi antara budaya lama dengan budaya baru yaitu ajaran Islam. Stilisasi bentuk wayang kulit sudah sangat berbeda dengan wujud manusia.Gaya penggambaran wayang demikian itu merupakan pilihan para wali. Hal ini ditempuh agar wayang kulit dapat tampil dengan baik dan tidak melanggar larangan menurut ajaran agama Islam yang tidak memperbolehkan menggambarkan makhluk hidup seperti manusia atau binatang secara realistis. Wujud wayang kulit purwa sudah berbeda jauh dengan gambaran manusia, walau wayang kulit memiliki mata, hidung, dan mulut namun bentuk badan keseluruhan tipis, hidung mancung untuk menandakan kebangsawanan, mata sipit dan panjang, bentuk mulut yang berkelok-kelok, leher yang kecil sebesar lengan, serta tangan yang panjang hingga menyentuh kaki tokoh.

Wayang kulit yang juga sering dikenal sebagai wayang purwa telah menjadi salah satu warisan budaya nasional dan sudah sangat terkenal di dunia. Sehingga banyak wisatawan asing yang datang untuk mempelajari seni wayang kulit ini, karena tergolong unik. Saat ini pertunjukan wayang kulit pun masih menjadi salah satu tontonan menarik yang digemari oleh masyarakat Yogyakarta. Kesenian ini menggunakan sebuah layar besar dan lakonan wayang tersebut dimainkan dibalik layar putih tersebut, sehingga para peniknat tontonan ini serasa menonton film kartun ataupun film-film di bioskop. Penggunaan layar imerupakan pengaruh Islam. Wayang yang pada awalnya berbentuk boneka yang terbuat dari kayu dan dinamakan wayang golek, dilarang dipertunjukkan karena hukum Islam melarang menggambaran bentuk dewa-dewi dalam bentuk manusia (boneka). Ketika Raden Patah dari Demak ingin menonton pertunjukan wayang, para pemimpin Islam ini pun melarangnya. Sebagai jalan keluar, para pemimpin Islam ini merubah bentuk wayang menjadi wayang kulit. Pertunjukannya pun melalui media layar, sehingga yang terlihat hanya bayangannya, bukan bentuk aslinya.

Pertunjukan wayang kulit diatur dan dijalankan oleh seorang dalang yang menggerakkan dan mengisi suara-suara tokoh dalam perwayangan tersebut. Yang menarik, ketika pertunjukan wayang kulit berjalan, di tengah-tengahnya biasanya diselingi dengan “goro-goro” yaitu saat munculnya para Punakawan yang terdiri dari Semar, Bagong, Petruk, dan Gareng, biasanya cerita yang diangkat adalah seputar masalah-masalah saat ini yang diselingi hal-hal lucu di dalamnya. Wayang Kulit biasanya diadakan semalam suntuk hingga fajar menyingsing bahkan tidak jarang diadakan selama tujuh hari tujuh malam. Pertunjukan wayang saat ini masih ada yang menggunakan blencong namun tidak sedikit yang telah menggantinya dengan spotlight.

Di Jogjakarta Anda bisa menonton wayang ini di Museum Sonobudoyo. Pertunjukan wayang di sini tidak semalam suntuk namun disajikan secara ringkas dari jam 20.00 -22.00 WIB pada hari kerja. Dalang memainkan wayang kulit sesuai pakemnya yaitu menggunakan bahasa Jawa diiringi dengan musik gamelan Jawa. Panggung dibuat sedemikian rupa sehingga penonton dapat menonton dari belakang dalang atau dari balik layar. Keduanya memberikan sensasi yang berbeda jika Anda menonton dari belakang dalang, Anda dapat melihat warna tokoh-tokoh wayang dan dapat dengan mudah membedakan masing-masing tokoh. Sedangkan jika Anda menonton dari balik layar, Anda dapat melihat bayangan tokoh-tokoh wayang yang tatahan kulit wayangnya membuat bayangan tersebut menjadi indah dan hidup.

Saat sekarang ini sudah jarang orang yang menyelenggarakan wayang semalam suntuk untuk pesta sunatan, pesta pengantin, sukuran dan pesta hajatan lainnya. Hal itu karena harga penyelenggaraan wayang sangat mahal dan juga selera masyarakat yang lebih menyukai hiburan yang lebih kontemporer, seperti keroncong, campursari yang semuanya juga masih merupakan budaya Indonesia. Namun alangkah sayangnya jika wayang kulit yang telah menjadi warisan dunia ini hanya sekedar menjadi kebanggaan tanpa bukti nyata adanya rasa memiliki terhadap wayang ini dari bangsa yang memilikinya. Penonton dari pagelaran wayang kulit di Museum Sonobudoyo ini pun biasanya akan lebih banyak turis mancanegara menyaksikan wayang ini dibandingkan turis domestik.

Jadi luangkan waktu Anda selama dua jam untuk menikmati warisan adiluhung ini!

Masih banyak tempat hiburan malam lain selain yang kami uraikan di atas baik berupa warung makan ataupun angkringan-angkringan di Jogja. Angkringan dengan konsep seperti café di sekitar kampus Jogja Utara ada beberapa di antaranya yang dilengkapi dengan hiburan live musik. Jika Anda ingin ke café pun dengan mudah akan Anda jumpai terutama di daerah turis seperti Prawirotaman maupun Sosrowijayan. Tempat-tempat karaoke dan olah raga seperti futsal, badminton bisa Anda jumpai juga di Jogja pada malam hari. Jadi malam hari Anda di Jogja akan penuh dengan acara!

(Diolah dari berbagai sumber)

By rafiqtours

borobudur

Borobudur

Borobudur adalah nama sebuah candi Buddha yang terletak di Borobudur,MagelangJawa TengahIndonesia. Lokasi candi adalah kurang lebih 100 km di sebelah barat daya Semarang, 86 km di sebelah barat Surakarta, dan 40 km di sebelah barat laut Yogyakarta. Candi berbentuk stupa ini didirikan oleh para penganut agama Buddha Mahayana sekitar tahun 800-an Masehi pada masa pemerintahan wangsa Syailendra. Monumen ini terdiri atas enam teras berbentuk bujur sangkar yang diatasnya terdapat tiga pelataran melingkar, pada dindingnya dihiasi dengan 2.672 panel relief dan aslinya terdapat 504 arca Buddha.[1] Stupa utama terbesar teletak di tengah sekaligus memahkotai bangunan ini, dikelilingi oleh tiga barisan melingkar 72 stupa berlubang yang didalamnya terdapat arca buddha tengah duduk bersila dalam posisi teratai sempurna dengan mudra (sikap tangan)Dharmachakra mudra (memutar roda dharma).

Monumen ini merupakan model alam semesta dan dibangun sebagai tempat suci untuk memuliakan Buddha sekaligus berfungsi sebagai tempat ziarah untuk menuntun umat manusia beralih dari alam nafsu duniawi menuju pencerahan dan kebijaksanaan sesuai ajaran Buddha.[2] Para peziarah masuk melalui sisi timur memulai ritual di dasar candi dengan berjalan melingkari bangunan suci ini searah jarum jam, sambil terus naik ke undakan berikutnya melalui tiga tingkatan ranah dalam kosmologi Buddha. Ketiga tingkatan itu adalah Kāmadhātu (ranah hawa nafsu), Rupadhatu (ranah berwujud), dan Arupadhatu (ranah tak berwujud). Dalam perjalanannya ini peziarah berjalan melalui serangkaian lorong dan tangga dengan menyaksikan tak kurang dari 1.460 panel relief indah yang terukir pada dinding dan pagar langkan.

Menurut bukti-bukti sejarah, Borobudur ditinggalkan pada abad ke-14 seiring melemahnya pengaruh kerajaan Hindu dan Buddha di Jawa serta mulai masuknya pengaruh Islam.[3] Dunia mulai menyadari keberadaan bangunan ini sejak ditemukan 1814 oleh Sir Thomas Stamford Raffles, yang saat itu menjabat sebagai Gubernur Jenderal Inggris atas Jawa. Sejak saat itu Borobudur telah mengalami serangkaian upaya penyelamatan dan pemugaran. Proyek pemugaran terbesar digelar pada kurun 1975 hingga 1982 atas upaya Pemerintah Republik Indonesia dan UNESCO, kemudian situs bersejarah ini masuk dalam daftar Situs Warisan Dunia.[4]

Borobudur kini masih digunakan sebagai tempat ziarah keagamaan; tiap tahun umat Buddha yang datang dari seluruh Indonesia dan mancanegara berkumpul di Borobudur untuk memperingati Trisuci Waisak. Dalam dunia pariwisata, Borobudur adalah obyek wisata tunggal di Indonesia yang paling banyak dikunjungi wisatawan.[5][6][7]

Nama Borobudur

Stupa Borobudur dengan jajaran perbukitan Menoreh. Selama berabad-abad bangunan suci ini sempat terlupakan.

Dalam Bahasa Indonesia, bangunan keagamaan purbakala disebut candi; istilah candi juga digunakan secara lebih luas untuk merujuk kepada semua bangunan purbakala yang berasal dari masa Hindu-Buddha di Nusantara, misalnya gerbanggapura, dan petirtaan (kolam dan pancuran pemandian). Asal mula nama Borobudur tidak jelas,[8] meskipun memang nama asli dari kebanyakan candi di Indonesia tidak diketahui.[8] Nama Borobudur pertama kali ditulis dalam buku “Sejarah Pulau Jawa” karya Sir Thomas Raffles.[9] Raffles menulis mengenai monumen bernama borobudur, akan tetapi tidak ada dokumen yang lebih tua yang menyebutkan nama yang sama persis.[8] Satu-satunya naskah Jawa kuno yang memberi petunjuk mengenai adanya bangunan suci Buddha yang mungkin merujuk kepada Borobudur adalah Nagarakretagama, yang ditulis oleh Mpu Prapanca pada 1365.[10]

Nama Bore-Budur, yang kemudian ditulis BoroBudur, kemungkinan ditulis Raffles dalam tata bahasa Inggris untuk menyebut desa terdekat dengan candi itu yaitu desa Bore (Boro); kebanyakan candi memang seringkali dinamai berdasarkan desa tempat candi itu berdiri. Raffles juga menduga bahwa istilah ‘Budur’ mungkin berkaitan dengan istilah Buda dalam bahasa Jawa yang berarti “purba”– maka bermakna, “Boro purba”.[8]Akan tetapi arkeolog lain beranggapan bahwa nama Budur berasal dari istilah bhudhara yang berarti gunung.[11]

Banyak teori yang berusaha menjelaskan nama candi ini. Salah satunya menyatakan bahwa nama ini kemungkinan berasal dari kataSambharabhudhara, yaitu artinya “gunung” (bhudara) di mana di lereng-lerengnya terletak teras-teras. Selain itu terdapat beberapaetimologi rakyat lainnya. Misalkan kata borobudur berasal dari ucapan “para Buddha” yang karena pergeseran bunyi menjadiborobudur. Penjelasan lain ialah bahwa nama ini berasal dari dua kata “bara” dan “beduhur”. Kata bara konon berasal dari kata vihara, sementara ada pula penjelasan lain di mana bara berasal dari bahasa Sanskerta yang artinya kompleks candi atau biara dan beduhurartinya ialah “tinggi”, atau mengingatkan dalam bahasa Bali yang berarti “di atas”. Jadi maksudnya ialah sebuah biara atau asramayang berada di tanah tinggi.

Sejarawan J.G. de Casparis dalam disertasinya untuk mendapatkan gelar doktor pada 1950 berpendapat bahwa Borobudur adalah tempat pemujaan. Berdasarkan prasasti Karangtengah dan Tri Tepusan, Casparis memperkirakan pendiri Borobudur adalah rajaMataram dari wangsa Syailendra bernama Samaratungga, yang melakukan pembangunan sekitar tahun 824 M. Bangunan raksasa itu baru dapat diselesaikan pada masa putrinya, Ratu Pramudawardhani. Pembangunan Borobudur diperkirakan memakan waktu setengah abad. Dalam prasasti Karangtengah pula disebutkan mengenai penganugerahan tanah sima (tanah bebas pajak) oleh Çrī Kahulunan (Pramudawardhani) untuk memelihara Kamūlān yang disebut Bhūmisambhāra[12] Istilah Kamūlān sendiri berasal dari kata mula yang berarti tempat asal muasal, bangunan suci untuk memuliakan leluhur, kemungkinan leluhur dari wangsa Sailendra. Casparis memperkirakan bahwa Bhūmi Sambhāra Bhudhāra dalam bahasa Sanskerta yang berarti “Bukit himpunan kebajikan sepuluh tingkatan boddhisattwa”, adalah nama asli Borobudur.[13]

Konsep rancang bangun

Pada hakikatnya Borobudur adalah sebuah stupa yang bila dilihat dari atas membentuk pola Mandala besar. Mandala adalah pola rumit yang tersusun atas bujursangkar dan lingkaran konsentris yang melambangkan kosmos atau alam semesta yang lazim ditemukan dalam Buddha aliran Wajrayana-Mahayana. Sepuluh pelataran yang dimiliki Borobudur menggambarkan secara jelas filsafat mazhabMahayana yang secara bersamaan menggambarkankosmologi yaitu konsep alam semesta, sekaligus tingkatan alam pikiran dalam ajaran Buddha.[49] Bagaikan sebuah kitab, Borobudur menggambarkan sepuluh tingkatan Bodhisattva yang harus dilalui untuk mencapai kesempurnaan menjadi Buddha. Dasar denah bujur sangkar berukuran 123 m(400 kaki) pada tiap sisinya. Bangunan ini memiliki sembilan teras, enam teras terbawah berbentuk bujur sangkar dan tiga teras teratas berbentuk lingkaran.

Pada tahun 1885, secara tidak disengaja ditemukan struktur tersembunyi di kaki Borobudur.[32] Kaki tersembunyi ini terdapat relief yang 160 diantaranya adalah berkisah tentang Karmawibhangga. Pada relief panel ini terdapat ukiran aksara yang merupakan petunjuk bagi pengukir untuk membuat adegan dalam gambar relief.[50] Kaki asli ini tertutup oleh penambahan struktur batu yang membentuk pelataran yang cukup luas, fungsi sesungguhnya masih menjadi misteri. Awalnya diduga bahwa penambahan kaki ini untuk mencegah kelongsoran monumen.[50] Teori lain mengajukan bahwa penambahan kaki ini disebabkan kesalahan perancangan kaki asli, dan tidak sesuai dengan Wastu Sastra, kitab India mengenai arsitektur dan tata kota.[32] Apapun alasan penambahan kaki ini, penambahan dan pembuatan kaki tambahan ini dilakukan dengan teliti dengan mempertimbangkan alasan keagamaan, estetik, dan teknis.

Ketiga tingkatan ranah spiritual dalam kosmologi Buddha adalah:

Kamadhatu

Bagian kaki Borobudur melambangkan Kamadhatu, yaitu dunia yang masih dikuasai olehkama atau “nafsu rendah”. Bagian ini sebagian besar tertutup oleh tumpukan batu yang diduga dibuat untuk memperkuat konstruksi candi. Pada bagian kaki asli yang tertutup struktur tambahan ini terdapat 160 panel cerita Karmawibhangga yang kini tersembunyi. Sebagian kecil struktur tambahan di sudut tenggara disisihkan sehingga orang masih dapat melihat beberapa relief pada bagian ini. Struktur batu andesit kaki tambahan yang menutupi kaki asli ini memiliki volume 13.000 meter kubik.[2]

Rupadhatu

Empat undak teras yang membentuk lorong keliling yang pada dindingnya dihiasi galeri relief oleh para ahli dinamakan Rupadhatu. Lantainya berbentuk persegi. Rupadhatu terdiri dari empat lorong dengan 1.300 gambar relief. Panjang relief seluruhnya 2,5 km dengan 1.212 panel berukir dekoratif. Rupadhatu adalah dunia yang sudah dapat membebaskan diri dari nafsu, tetapi masih terikat oleh rupa dan bentuk. Tingkatan ini melambangkan alam antara yakni, antara alam bawah dan alam atas. Pada bagian Rupadhatu ini patung-patung Buddha terdapat pada ceruk atau relung dinding di atas pagar langkan atau selasar. Aslinya terdapat 432 arca Buddha di dalam relung-relung terbuka di sepanjang sisi luar di pagar langkan.[2] Pada pagar langkan terdapat sedikit perbedaan rancangan yang melambangkan peralihan dari ranah Kamadhatu menuju ranah Rupadhatu; pagar langkan paling rendah dimahkotai ratna, sedangkan empat tingkat pagar langkan diatasnya dimahkotai stupika (stupa kecil). Bagian teras-teras bujursangkar ini kaya akan hiasan dan ukiran relief.

Arupadhatu

Berbeda dengan lorong-lorong Rupadhatu yang kaya akan relief, mulai lantai kelima hingga ketujuh dindingnya tidak berelief. Tingkatan ini dinamakan Arupadhatu (yang berarti tidak berupa atau tidak berwujud). Denah lantai berbentuk lingkaran. Tingkatan ini melambangkan alam atas, di mana manusia sudah bebas dari segala keinginan dan ikatan bentuk dan rupa, namun belum mencapainirwana. Pada pelataran lingkaran terdapat 72 dua stupa kecil berterawang yang tersusun dalam tiga barisan yang mengelilingi satu stupa besar sebagai stupa induk. Stupa kecil berbentuk lonceng ini disusun dalam 3 teras lingkaran yang masing-masing berjumlah 32, 24, dan 16 (total 72 stupa). Dua teras terbawah stupanya lebih besar dengan lubang berbentuk belah ketupat, satu teras teratas stupanya sedikit lebih kecil dan lubangnya berbentuk kotak bujur sangkar. Patung-patung Buddha ditempatkan di dalam stupa yang ditutup berlubang-lubang seperti dalam kurungan. Dari luar patung-patung itu masih tampak samar-samar. Rancang bangun ini dengan cerdas menjelaskan konsep peralihan menuju keadaan tanpa wujud, yakni arca Buddha itu ada tetapi tak terlihat.

Tingkatan tertinggi yang menggambarkan ketiadaan wujud yang sempurna dilambangkan berupa stupa yang terbesar dan tertinggi. Stupa digambarkan polos tanpa lubang-lubang. Di dalam stupa terbesar ini pernah ditemukan patung Buddha yang tidak sempurna atau disebut juga Buddha yang tidak rampung, yang disalahsangkakan sebagai patung ‘Adibuddha’, padahal melalui penelitian lebih lanjut tidak pernah ada patung di dalam stupa utama, patung yang tidak selesai itu merupakan kesalahan pemahatnya pada zaman dahulu. Menurut kepercayaan patung yang salah dalam proses pembuatannya memang tidak boleh dirusak. Penggalian arkeologi yang dilakukan di halaman candi ini menemukan banyak patung seperti ini. Stupa utama yang dibiarkan kosong diduga bermakna kebijaksanaan tertinggi, yaitu kasunyatan, kesunyian dan ketiadaan sempurna dimana jiwa manusia sudah tidak terikat hasrat, keinginan, dan bentuk serta terbebas dari lingkaran samsara.

Struktur bangunan

Arca singa penjaga gerbang

Ukiran raksasa sebagai kepala pancuran drainase

Penampang candi Borobudur terdapat rasio perbandingan 4:6:9 antara bagian kaki, tubuh, dan kepala

Tangga Borobudur mendaki melalui serangkaian gapura berukir Kala-Makara

Sekitar 55.000 meter kubik batu andesit diangkut dari tambang batu dan tempat penatahan untuk membangun monumen ini.[51] Batu ini dipotong dalam ukuran tertentu, diangkut menuju situs dan disatukan tanpa menggunakan semen. Struktur Borobudur tidak memakai semen sama sekali, melainkan sistem interlock (saling kunci) yaitu seperti balok-balok lego yang bisa menempel tanpa perekat. Batu-batu ini disatukan dengan tonjolan dan lubang yang tepat dan muat satu sama lain, serta bentuk “ekor merpati” yang mengunci dua blok batu. Relief dibuat di lokasi setelah struktur bangunan dan dinding rampung.

Monumen ini dilengkapi dengan sistem drainase yang cukup baik untuk wilayah dengan curah hujan yang tinggi. Untuk mencegah genangan dan kebanjiran, 100 pancuran dipasang disetiap sudut, masing-masing dengan rancangan yang unik berbentuk kepala raksasa kala atau makara.

Borobudur amat berbeda dengan rancangan candi lainnya, candi ini tidak dibangun di atas permukaan datar, tetapi di atas bukit alami. Akan tetapi teknik pembangunannya serupa dengan candi-candi lain di Jawa. Borobudur tidak memiliki ruang-ruang pemujaan seperti candi-candi lain. Yang ada ialah lorong-lorong panjang yang merupakan jalan sempit. Lorong-lorong dibatasi dinding mengelilingi candi tingkat demi tingkat. Secara umum rancang bangun Borobudur mirip dengan piramida berundak. Di lorong-lorong inilah umat Buddha diperkirakan melakukan upacara berjalan kaki mengelilingi candi ke arah kanan. Borobudur mungkin pada awalnya berfungsi lebih sebagai sebuah stupa, daripada kuil atau candi.[51] Stupa memang dimaksudkan sebagai bangunan suci untuk memuliakan Buddha. Terkadang stupa dibangun sebagai lambang penghormatan dan pemuliaan kepada Buddha. Sementara kuil atau candi lebih berfungsi sebagai rumah ibadah. Rancangannya yang rumit dari monumen ini menunjukkan bahwa bangunan ini memang sebuah bangunan tempat peribadatan. Bentuk bangunan tanpa ruangan dan struktur teras bertingkat-tingkat ini diduga merupakan perkembangan dari bentuk punden berundak, yang merupakan bentuk arsitektur asli dari masa prasejarah Indonesia.

Menurut legenda setempat arsitek perancang Borobudur bernama Gunadharma, sedikit yang diketahui tentang arsitek misterius ini.[52] Namanya lebih berdasarkan dongeng dan legenda Jawa dan bukan berdasarkan prasasti bersejarah. Legenda Gunadharma terkait dengan cerita rakyat mengenai perbukitan Menoreh yang bentuknya menyerupai tubuh orang berbaring. Dongeng lokal ini menceritakan bahwa tubuh Gunadharma yang berbaring berubah menjadi jajaran perbukitan Menoreh, tentu saja legenda ini hanya fiksi dan dongeng belaka.

Perancangan Borobudur menggunakan satuan ukur tala, yaitu panjang wajah manusia antara ujung garis rambut di dahi hingga ujung dagu, atau jarak jengkal antara ujung ibu jari dengan ujung jari kelingking ketika telapak tangan dikembangkan sepenuhnya.[53] Tentu saja satuan ini bersifat relatif dan sedikit berbeda antar individu, akan tetapi satuan ini tetap pada monumen ini. Penelitian pada 1977 mengungkapkan rasio perbandingan 4:6:9 yang ditemukan di monumen ini. Arsitek menggunakan formula ini untuk menentukan dimensi yang tepat dari suatu fraktal geometri perulangan swa-serupa dalam rancangan Borobudur.[53][54] Rasio matematis ini juga ditemukan dalam rancang bangun Candi Mendut dan Pawon di dekatnya. Arkeolog yakin bahwa rasio 4:6:9 dan satuan tala memiliki fungsi dan makna penanggalan, astronomi, dan kosmologi. Hal yang sama juga berlaku di candi Angkor Wat di Kamboja.[52]

Struktur bangunan dapat dibagi atas tiga bagian: dasar (kaki), tubuh, dan puncak.[52] Dasar berukuran 123×123 m (403.5 × 403.5 ft) dengan tinggi 4 m (13 kaki).[51] Tubuh candi terdiri atas lima batur teras bujur sangkar yang makin mengecil di atasnya. Teras pertama mundur 7 m (23 kaki) dari ujung dasar teras. Tiap teras berikutnya mundur 2 m (6.6 kaki), menyisakan lorong sempit pada tiap tingkatan. Bagian atas terdiri atas tiga teras melingkar, tiap tingkatan menopang barisan stupa berterawang yang disusun secara konsentris. Terdapat stupa utama yang terbesar di tengah; dengan pucuk mencapai ketinggian 35 m (110 kaki) dari permukaan tanah. Tinggi asli Borobudur termasuk chattra (payung susun tiga) yang kini dilepas adalah 42 m (140 kaki) . Tangga terletak pada bagian tengah keempat sisi mata angin yang membawa pengunjung menuju bagian puncak monumen melalui serangkaian gerbang pelengkung yang dijaga 32 arca singa. Gawang pintu gerbang dihiasi ukiran Kala pada puncak tengah lowong pintu dan ukiran makarayang menonjol di kedua sisinya. Motif Kala-Makara lazim ditemui dalam arsitektur pintu candi di Jawa. Pintu utama terletak di sisi timur, sekaligus titik awal untuk membaca kisah relief. Tangga ini lurus terus tersambung dengan tangga pada lereng bukit yang menghubungkan candi dengan dataran di sekitarnya.

Relief

Seni pahat Borobudur memiliki kehalusan gaya dan citarasa estetik yang anggun

Letak relief kisah-kisah naskah suci Buddha di dinding Borobudur

Borobudur

Pada dinding candi di setiap tingkatan — kecuali pada teras-teras Arupadhatu — dipahatkan panel-panel bas-relief yang dibuat dengan sangat teliti dan halus.[55] Relief dan pola hias Borobudur bergaya naturalis dengan proporsi yang ideal dan selera estetik yang halus. Relief-relief ini sangat indah, bahkan dianggap sebagai yang paling elegan dan anggun dalam kesenian dunia Buddha.[56] Relief Borobudur juga menerapkan disiplin senirupa India, seperti berbagai sikap tubuh yang memiliki makna atau nilai estetis tertentu. Relief-relief berwujud manusia mulia seperti pertapa, raja dan wanita bangsawan, bidadari atapun makhluk yang mencapai derajat kesucian laksana dewa, seperti tara dan boddhisatwa, seringkali digambarkan dengan posisi tubuh tribhanga. Posisi tubuh ini disebut “lekuk tiga” yaitu melekuk atau sedikit condong pada bagian leher, pinggul, dan pergelangan kaki dengan beban tubuh hanya bertumpu pada satu kaki, sementara kaki yang lainnya dilekuk beristirahat. Posisi tubuh yang luwes ini menyiratkan keanggunan, misalnya figur bidadari Surasundari yang berdiri dengan sikap tubuh tribhanga sambil menggenggam teratai bertangkai panjang.[57]

Relief Borobudur menampilkan banyak gambar; seperti sosok manusia baik bangsawan, rakyat jelata, atau pertapa, aneka tumbuhan dan hewan, serta menampilkan bentuk bangunan vernakular tradisional Nusantara. Borobudur tak ubahnya bagaikan kitab yang merekam berbagai aspek kehidupan masyarakat Jawa kuno. Banyak arkeolog meneliti kehidupan masa lampau di Jawa kuno dan Nusantara abad ke-8 dan ke-9 dengan mencermati dan merujuk ukiran relief Borobudur. Bentuk rumah panggung, lumbung, istana dan candi, bentuk perhiasan, busana serta persenjataan, aneka tumbuhan dan margasatwa, serta alat transportasi, dicermati oleh para peneliti. Salah satunya adalah relief terkenal yang menggambarkan Kapal Borobudur.[58] Kapal kayu bercadik khas Nusantara ini menunjukkan kebudayaan bahari purbakala. Replika bahtera yang dibuat berdasarkan relief Borobudur tersimpan di Museum Samudra Raksa yang terletak di sebelah utara Borobudur.[59]

Relief-relief ini dibaca sesuai arah jarum jam atau disebut mapradaksina dalam bahasa Jawa Kuna yang berasal dari bahasa Sanskerta daksina yang artinya ialah timur. Relief-relief ini bermacam-macam isi ceritanya, antara lain relief-relief cerita jātaka. Pembacaan cerita-cerita relief ini senantiasa dimulai, dan berakhir pada pintu gerbang sisi timur di setiap tingkatnya, mulainya di sebelah kiri dan berakhir di sebelah kanan pintu gerbang itu. Maka secara nyata bahwa sebelah timur adalah tangga naik yang sesungguhnya (utama) dan menuju puncak candi, artinya bahwa candi menghadap ke timur meskipun sisi-sisi lainnya serupa benar.

Adapun susunan dan pembagian relief cerita pada dinding dan pagar langkan candi adalah sebagai berikut.

Bagan Relief
Tingkat Posisi/letak Cerita Relief Jumlah Pigura
Kaki candi asli —– Karmawibhangga 160
Tingkat I dinding a. Lalitawistara 120
b. jataka/awadana 120
langkan a. jataka/awadana 372
b. jataka/awadana 128
Tingkat II dinding Gandawyuha 128
langkan jataka/awadana 100
Tingkat III dinding Gandawyuha 88
langkan Gandawyuha 88
Tingkat IV dinding Gandawyuha 84
langkan Gandawyuha 72
Jumlah 1460

Secara runtutan, maka cerita pada relief candi secara singkat bermakna sebagai berikut :

Karmawibhangga

Salah satu ukiran Karmawibhangga di dinding candi Borobudur (lantai 0 sudut tenggara)

Sesuai dengan makna simbolis pada kaki candi, relief yang menghiasi dinding batur yang terselubung tersebut menggambarkan hukum karma. Karmawibhangga adalah naskah yang menggambarkan ajaran mengenai karma, yakni sebab-akibat perbuatan baik dan jahat. Deretan relief tersebut bukan merupakan cerita seri (serial), tetapi pada setiap pigura menggambarkan suatu cerita yang mempunyai hubungan sebab akibat. Relief tersebut tidak saja memberi gambaran terhadap perbuatan tercela manusia disertai dengan hukuman yang akan diperolehnya, tetapi juga perbuatan baik manusia dan pahala. Secara keseluruhan merupakan penggambaran kehidupan manusia dalam lingkaran lahir – hidup – mati (samsara) yang tidak pernah berakhir, dan oleh agama Buddha rantai tersebutlah yang akan diakhiri untuk menuju kesempurnaan. Kini hanya bagian tenggara yang terbuka dan dapat dilihat oleh pengujung. Foto lengkap relief Karmawibhangga dapat disaksikan di Museum Karmawibhangga di sisi utara candi Borobudur.

Lalitawistara

Pangeran Siddhartha Gautama mencukur rambutnya dan menjadi pertapa

Merupakan penggambaran riwayat Sang Buddha dalam deretan relief-relief (tetapi bukan merupakan riwayat yang lengkap) yang dimulai dari turunnya Sang Buddha dari surga Tushita, dan berakhir dengan wejangan pertama di Taman Rusa dekat kota Banaras. Relief ini berderet dari tangga pada sisi sebelah selatan, setelah melampui deretan relief sebanyak 27 pigura yang dimulai dari tangga sisi timur. Ke-27 pigura tersebut menggambarkan kesibukan, baik di sorga maupun di dunia, sebagai persiapan untuk menyambut hadirnya penjelmaan terakhir Sang Bodhisattwa selaku calon Buddha. Relief tersebut menggambarkan lahirnya Sang Buddha di arcapada ini sebagai Pangeran Siddhartha, putra Raja Suddhodana dan Permaisuri Maya dari Negeri Kapilawastu. Relief tersebut berjumlah 120 pigura, yang berakhir dengan wejangan pertama, yang secara simbolis dinyatakan sebagai Pemutaran Roda Dharma, ajaran Sang Buddha di sebut dharma yang juga berarti “hukum”, sedangkan dharma dilambangkan sebagai roda.

Jataka dan Awadana

Jataka adalah berbagai cerita tentang Sang Buddha sebelum dilahirkan sebagai Pangeran Siddharta. Isinya merupakan pokok penonjolan perbuatan-perbuatan baik, seperti sikap rela berkorban dan suka menolong yang membedakan Sang Bodhisattwa dari makhluk lain manapun juga. Beberapa kisah Jataka menampilkan kisah fabel yakni kisah yang melibatkan tokoh satwa yang bersikap dan berpikir seperti manusia. Sesungguhnya, pengumpulan jasa atau perbuatan baik merupakan tahapan persiapan dalam usaha menuju ketingkat ke-Buddha-an.

Sedangkan Awadana, pada dasarnya hampir sama dengan Jataka akan tetapi pelakunya bukan Sang Bodhisattwa, melainkan orang lain dan ceritanya dihimpun dalam kitab Diwyawadana yang berarti perbuatan mulia kedewaan, dan kitab Awadanasataka atau seratus cerita Awadana. Pada relief candi Borobudur Jataka dan Awadana, diperlakukan sama, artinya keduanya terdapat dalam deretan yang sama tanpa dibedakan. Himpunan yang paling terkenal dari kehidupan Sang Bodhisattwa adalah Jatakamala atau untaian cerita Jataka, karya penyair Aryasura yang hidup dalam abad ke-4 Masehi.

Gandawyuha

Merupakan deretan relief menghiasi dinding lorong ke-2,adalah cerita Sudhana yang berkelana tanpa mengenal lelah dalam usahanya mencari Pengetahuan Tertinggi tentang Kebenaran Sejati oleh Sudhana. Penggambarannya dalam 460 pigura didasarkan pada kitab suci Buddha Mahayana yang berjudul Gandawyuha, dan untuk bagian penutupnya berdasarkan cerita kitab lainnya yaitu Bhadracari.

Arca Buddha

Sebuah arca Buddha di dalam stupa berterawang

Selain wujud buddha dalam kosmologi buddhis yang terukir di dinding, di Borobudur terdapat banyak arca buddha duduk bersila dalam posisi teratai serta menampilkan mudra atau sikap tangan simbolis tertentu. Patung buddha dengan tinggi 1,5 meter ini dipahat dari bahan batu andesit.[2]

Patung buddha dalam relung-relung di tingkat Rupadhatu, diatur berdasarkan barisan di sisi luar pagar langkan. Jumlahnya semakin berkurang pada sisi atasnya. Barisan pagar langkan pertama terdiri dari 104 relung, baris kedua 104 relung, baris ketiga 88 relung, baris keempat 72 relung, dan baris kelima 64 relung. Jumlah total terdapat 432 arca Buddha di tingkat Rupadhatu.[1] Pada bagianArupadhatu (tiga pelataran melingkar), arca Buddha diletakkan di dalam stupa-stupa berterawang (berlubang). Pada pelataran melingkar pertama terdapat 32 stupa, pelataran kedua 24 stupa, dan pelataran ketiga terdapat 16 stupa, semuanya total 72 stupa.[1] Dari jumlah asli sebanyak 504 arca Buddha, lebih dari 300 telah rusak (kebanyakan tanpa kepala) dan 43 hilang (sejak penemuan monumen ini, kepala buddha sering dicuri sebagai barang koleksi, kebanyakan oleh museum luar negeri).[60]

Secara sepintas semua arca buddha ini terlihat serupa, akan tetapi terdapat perbedaan halus diantaranya, yaitu pada mudra atau posisi sikap tangan. Terdapat lima golongan mudra: Utara, Timur, Selatan, Barat, dan Tengah, kesemuanya berdasarkan lima arah utama kompas menurut ajaran Mahayana. Keempat pagar langkan memiliki empat mudra: Utara, Timur, Selatan, dan Barat, dimana masing-masing arca buddha yang menghadap arah tersebut menampilkan mudra yang khas. Arca Buddha pada pagar langkan kelima dan arca buddha di dalam 72 stupa berterawang di pelataran atas menampilkan mudra: Tengah atau Pusat. Masing-masing mudra melambangkan lima Dhyani Buddha; masing-masing dengan makna simbolisnya tersendiri.[61]

Mengikuti urutan Pradakshina yaitu gerakan mengelilingi searah jarum jam dimulai dari sisi Timur, maka mudra arca-arca buddha di Borobudur adalah:

Arca Mudra Melambangkan Dhyani Buddha Arah Mata Angin Lokasi Arca
COLLECTIE TROPENMUSEUM Boeddhabeeld van de Borobudur TMnr 10016277.jpg Bhumisparsa mudra Memanggil bumi sebagai saksi Aksobhya Timur Relung di pagar langkan 4 baris pertamaRupadhatusisi timur
COLLECTIE TROPENMUSEUM Boeddhabeeld van de Borobudur TMnr 60013976.jpg Wara mudra Kedermawanan Ratnasambhawa Selatan Relung di pagar langkan 4 baris pertamaRupadhatusisi selatan
COLLECTIE TROPENMUSEUM Boeddhabeeld van de Borobudur voorstellende Dhyani Boeddha Amitabha TMnr 10016276.jpg Dhyana mudra Semadi atau meditasi Amitabha Barat Relung di pagar langkan 4 baris pertamaRupadhatusisi barat
COLLECTIE TROPENMUSEUM Boeddhabeeld van de Borobudur voorstellende Dhyani Boeddha Amogasiddha TMnr 10016274.jpg Abhaya mudra Ketidakgentaran Amoghasiddhi Utara Relung di pagar langkan 4 baris pertamaRupadhatusisi utara
COLLECTIE TROPENMUSEUM Boeddhabeeld van de Borobudur voorstellende Dhyani Boeddha Vairocana TMnr 10015947.jpg Witarka mudra Akal budi Wairocana Tengah Relung di pagar langkan baris kelima (teratas)Rupadhatusemua sisi
COLLECTIE TROPENMUSEUM Boeddhabeeld van de Borobudur TMnr 60019836.jpg Dharmachakra mudra Pemutaran roda dharma Wairocana Tengah Di dalam 72 stupa di 3 teras melingkarArupadhatu
By rafiqtours

Pantai Krakal _ Gn. Kidul

krakal1

Selain Pantai Baron dan Pantai Sundak, deretan pesisir wonosari di gn.kidul ternyata memiliki pantai cantik lainnya, yaitu Pantai Krakal. Pantai dengan eksotisme Pasir putih, batu karang, dan ombaknya yang kencang, membuat pantai ini bagai surga di Gunungkidul.

Pantai di pesisir selatan Pulau Jawa memang dikenal dengan ombaknya yang ganas. Namun, sepertinya tidak semua pantai tersebut memiliki pemandangan yang indah.

Pantai Krakal berada di Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, tidak jauh dari Wonosari, ibu kota Gunungkidul. Letaknya bersebelahan dengan Pantai Sundak yang terkenal dengan keindahan batu karangnya.

Pantai ini memberikan semua hal tentang apa yang dibayangkan sebagai panorama pantai yang indah. Di sepanjang pantai tersaji pemandangan yang luar biasa.

Pantai Krakal tergolong sebagai pantai yang landai. Pasir putihnya yang bersih juga menjadi daya tarik pantai ini. Belum lagi batu-batu karang yang eksotis, membuat pemandangan cantik Pantai Klayar makin lengkap.

Ombak yang deras khas pantai selatan Pulau Jawa juga tersedia di sini. Walaupun tidak sebesar ombak di pantai lainnya, Pantai Krakal sudah mulai diserbu oleh para surfer. Mereka yang datang biasanya merupakan surfer pemula yang baru belajar menaklukan ombak.

krakal3

Selain itu, banyak juga wisatawan asing yang berkunjung ke Pantai Krakal. Biasanya mereka datang untuk berjemur di bawah teriknya matahari.

Beberapa biro perjalanan wisata di Jawa Tengah juga sudah mulai mempromosikan pantai cantik ini. Melihat potensi wisata yang dimiliki oleh Pantai Krakal, pengelola pantai sudah mulai berbenah. Di dekat pantai rencananya akan dibangun resort sebagai fasilitas penunjang.

Untuk mencapai Pantai Krakal, Anda bisa menggunakan kendaraan pribadi atau kendaraan umum. Akses menuju pantai juga sudah tergolong bagus, karena sepanjang jalan menuju pantai sudah beralaskan aspal.

yuk hubungi Rafiq Tours di 021-94573697 / 08567834103 /081298550103 jika anada dan team ingin menikmati eksotisme pantai di pesisir wonosari ini.

By rafiqtours

Curuq Orok _ Garut

curuqorok1

Curug Orok memiliki ketinggian sekitar 45 m dan berada di ketinggian 250 meter di atas permukaan laut dengan konfigurasi umum lahan berbukit karena letaknya di kaki gunung Papandayan.

Curug ini terdiri dari dua buah curug yaitu curug besar yang mana aliran airnya jatuh langsung dari atas tebing yang berasal dari aliran sungai di atasnya. Limpahan curahan air ini membentuk kolam air dibawahnya.  Kolam ini cukup besar dan tidak terlalu dalam sehingga dapat digunakan untuk sekedar mandi ataupun berendam.  Sedangkan curug yang kecil terdiri dari beberapa kucuran air yang keluar dari rembesan dinding tebingnya.
Tak jauh dari curug ini sekitar 500 m juga terdapat curug lain yang bernama Curug Kembar.  Curug ini masih satu aliran air dengan Curug Orok.

Legenda
Sebelum bernama  Curug Orok, curug ini bernama Curug Sanghyang Prabu Gebur. Nama Curug Orok konon berasal dari cerita masyarakat setempat tentang seorang wanita yang pernah membuang bayi hasil hubungan gelap di curug tersebut pada tahun 1968.

Lokasi

Terletak di Desa Cikandang, Kecamatan Cikajang, Kabupaten Garut, Propinsi Jawa Barat.

Peta dan Koordinat GPS: 7° 23′ 16.81″ S  107° 44′ 6.08″ E  

Aksesbilitas

Berejarak sekitar 9 km dari ibukota Kecamatan Cikajang, sedangkan dari ibukota Kabupaten Garut sekitar 31 Km. Dapat dicapai dengan kendaraan roda dua atau empat dengan kondisi jalan aspal cukup baik.  Waktu tempuh menuju lokasi ini sekitar 1,5 jam perjalanan dari pusat kota Garut.

Bila menggunakan kendaraan pribadi dari kota Garut perjalanan di arahkan ke kecamatan Cikajang.  Sesampainya di kecamatan ini akan ditemui pertigaan yang dikenal dengan nama pertigaan Papanggungan.  Ambil belokan ke kanan ke arah Curug Orok, selanjutnya ikuti jalan tersebut hingga tiba di jalan masuk ke lokasi wisata yang ditandai dengan adanya plang di sebelah kiri jalan “Wana Wisata dan Bumi Perkemahan Angling Darma :                Curug Orok, Ci Kahuripan, Curug Kembar”.

Setibanya di gerbang pintu masuk tersebut, perjalanan diteruskan ke pelataran parkir yang berjarak sekitar 500 m dengan konsisi jalan tanah yang sudah dikeraskan.  Sebelum tiba di area parkir akan ditemui pos jaga sekaligus loket tiket masuk.  Setiba di area parkir kendaraan perjalanan diteruskan dengan berjalan kaki menuruni jalan setapak yang sudah dibuatkan undakan (sebagian sudah dibuatkan dari semen) sejauh sekitar 200 m menuju lokasi curug berada,  Jalan setapak ini cukup curam dan licin bila hujan.

Sedangkan bagi yang menggunakan kendaraan umum, dari terminal Guntur di pusat kota Garut naik angkot jurusan Garut – Cikajang.  Turun di pertigaan Papanggungan.  Dari pertigaan ini ganti naik angkot biru kuning dengan jurusan Curug Orok.  Ongkos angkot Garut – Cikajang adalah Rp 5000 sedangkan Papanggungan – Curug Orok adalah Rp. 3000.  Setiba di depan gapura masuk kawasan wisata Curug Orok perjalanan diteruskan dengan berjalan kaki hingga tiba di lokasi.
Tiket dan Parkir

Tiket masuk adalah Rp 10000 per orang.  Bagi yang memabawa kendaraan dikenakan karcis tanda masuk kendaraan untuk roda dua sebesar Rp 1000 dan Rp 3000 untuk kendaraan roda empat.

Akomodasi
Didekat curug ini tersedia dua buah toilet yang sekaligus berfungsi sebagai tempat bilas. Sayangnya kondisinya kurang baik bahkan mengenaskan. Untuk memdapatkan toilet yang lebih baik tersedia di area dekat parkir. 
 
Selain toilet yang lebih baik di area parkiran juga terdapat beberapa fasilitas seperti kolam renang, gazebo, area perkemahan, area permainan anak, penginapan, mushola, dan rumah makan.
 
Area perparkiran cukup luas menampung kendaraan baik roda dua maupun empat.  Kapasitas area ini sekitar 500 m2 dengan daya tampung 10 bus, 20 mobil dan 50 motor.
By rafiqtours

Air Terjun SRI GETHUK

Gemuruh Suara Air Pemecah Hening di Tanah Kering

srigethuk2

Eksotisme Grand Canyon di daerah utara Arizona, Amerika Serikat tentunya tak bisa disangkal lagi. Grand Canyon merupakan bentukan alam berupa jurang dan tebing terjal yang dihiasi oleh aliran Sungai Colorado. Nama Grand Canyon kemudian diplesetkan menjadi Green Canyon untuk menyebut obyek wisata di Jawa Barat yang hampir serupa, yakni aliran sungai yang membelah tebing-tebing tinggi. Gunungkidul sebagai daerah yang sering diasumsikan sebagai wilayah kering dan tandus ternyata juga menyimpan keindahan serupa, yakni hijaunya aliran sungai yang membelah ngarai dengan air terjun indah yang tak pernah berhenti mengalir di setiap musim. Air terjun tersebut dikenal dengan nama Air Terjun Sri Gethuk.

Terletak di Desa Wisata Bleberan, Air Terjun Sri Gethuk menjadi salah satu spot wisata yang sayang untuk dilewatkan. Untuk mencapai tempat ini Anda harus naik kendaraan melewati areal hutan kayu putih milik PERHUTANI dengan kondisi jalan yang bervariasi mulai dari aspal bagus hingga jalan makadam. Memasuki Dusun Menggoran, tanaman kayu putih berganti dengan ladang jati yang rapat. Sesampainya di areal pemancingan yang juga berfungsi sebagai tempat parkir, terdapat dua pilihan jalan untuk mencapai air terjun. Pilihan pertama yakni menyusuri jalan setapak dengan pemandangan sawah nan hijau berhiaskan nyiur kelapa, sedangkan pilihan kedua adalah naik melawan arus Sungai Oya. Tentu saja team Rafiq Tours memilih untuk naik rakit sederhana yang terbuat dari drum bekas dan papan.

srigethuk3

Perjalanan menuju Air Terjun Sri Gethuk pun dimulai saat mentari belum naik tinggi. Pagi itu Sungai Oya terlihat begitu hijau dan tenang, menyatu dengan keheningan tebing-tebing karst yang berdiri dengan gagah di kanan kiri sungai. Suara rakit yang melaju melawan arus sungai menyibak keheningan pagi. Sembari mengatur laju rakit, seorang pemandu menceritakan asal muasal nama Air Terjun Sri Gethuk. Berdasarkan cerita yang dipercayai masyarakat, air terjun tersebut merupakan tempat penyimpanan kethuk yang merupakan salah satu instrumen gamelan milik Jin Anggo Meduro. Oleh karena itu disebut dengan nama Air Terjun Sri Gethuk. Konon, pada saat-saat tertentu masyarakat Dukuh Menggoran masih sering mendengar suara gamelan mengalun dari arah air terjun.

Tak berapa lama menaiki rakit, suara gemuruh mulai terdengar. Sri Gethuk menanti di depan mata. Bebatuan yang indah di bawah air terjun membentuk undak-undakan laksana tepian kolam renang mewah, memanggil siapa saja untuk bermain di dalam air. Team Rafiq Tours pun turun dari rakit dan melompati bebatuan untuk sampai di bawah air terjun dan mandi di bawahnya. Kali ini rasanya seperti berada di negeri antah berantah di mana air mengalir begitu melimpah. Air mengalir di sela-sela jemari kaki, air memercik ke seluruh tubuh, air mengalir di mana-mana. Seorang kawan tiba-tiba berteriak “Ada pelangi!”. Saat menengadah, selengkung bianglala nan mempesona menghiasi air terjun. Sesaat Team Rafiq Tours merasa menjadi bidadari yang berselendangkan pelangi.

Biaya:

  • Tiket: Rp. 3.000 (merupakan tiket terusan dengan Gua Rancang Kencono)
  • Tarif naik rakit: Rp 5.000 / orang (pulang pergi)
  • Sewa ban: Rp. 2.000 / orang

Keterangan:

Wisata Air Terjun Sri Gethuk sepenuhnya dikelola oleh masyarakat Desa Bleberan. Untuk info lebih lanjut dapat menghubungi

1. Rafiq Tours (+6221 94573697, +628567834103, +6281298559103)

2. Kohar (+62 853 3400 5700), Tri Harjono (+62 813 2821 6842), Lutfi (+62 812 277 7330 )

By rafiqtours

Pantai Baron _ Gn. Kidul

baron
Pantai Baron, pantai paling populer di daerah Gunungkidul, karena pantai ini adalah pantai pertama yang akan ditemui jika mengunjungi gugusan kecup mesra laut dan daratan, simbol keelokan wisata pantai Gunungkidul. Jajaran Pantai Baron, Pantai Kukup, Pantai Sepanjang, Pantai Krakal, Pantai Indrayanti dan Pantai Sundak berderet di sana, memanjakan pengunjung akan keriuhan ombak pembawa kedamaian kalbu.
Pantai Baron terletak di Desa Kemadang, Kecamatan Tanjungsari, sekitar 20 km arah selatan kota Wonosari (40 km dari kotaYogyakarta). Pantai yang menjadi saksi pertemuan antara air laut dan air tawar, yang merupakan hasil dari sungai yang bermuara di satu sudut pantai baron, sebagai perlambang berpadunya dua hati meski dengan perbedaan latar belakang.

Para wisatawan akan dimanjakan dengan keelokan desir angin yang mengantarkan ombak tuk bercumbu dengan hamparan pasir, begitu sabar menunggu datangnya sang kekasih. Hasil kekayaan Baron seperti udang besar (lobster), ikan bawal putih, kakap, tongkol pun siap memanjakan pengunjung, baik yang masih segar ataupun yang siap saji. Sebagai Rekomendasi, Rafiq Tours menjagokan menu andalan di sini adalah Sop Kakap.

Satu momen yang teramat sayang dilewatkan adalah Upacara Sedekah Laut yang diselenggarakan oleh masyarakat nelayan setempat setiap bulan suro dalam kalender jawa, sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan hasil laut yang telah diberikan.

hubungi segera Rafiq Tours jika ingin menikmati pesona pantai indah pantai baron …. http://www.rafiqtours.wordpress.com
By rafiqtours